Taring yang Menusuk Hati - Chapter 20
✦•············༻20༺············•✦
Pemilik penginapan memerintahkannya untuk melayani tamu itu, karena uang perak yang ditunjukkan pelayan dan kuda hitam miliknya.
“Saat melayaninya, coba gali informasi tentang siapa dia dan dari mana asalnya. Kemungkinan besar dompetnya tebal.”
Ini adalah permintaan yang sulit bagi Moji. Dengan kemampuan melayaninya yang hebat, sepertinya pemilik berharap tamu itu akan dengan sukarela membuka diri, tanpa perlu ditanya.
Namun, selain kekurangan dalam hal bahasa, Moji juga memiliki kekurangan lain, yaitu kurangnya pengalaman. Meski lahir di kompleks prostitusi, ia belum pernah berurusan dengan hal-hal semacam itu.
Ada beragam alasan untuk itu, tapi yang paling utama adalah matanya yang buram seperti orang bodoh dan kulit penuh dengan ruam.
“Biar bagaimana pun, peluang ini jangan disia-siakan. Kau bisa mencoba merayunya. Sepertinya dia orang kaya, jadi meskipun kau gadis ompong seperti ini, ia pasti mau membayarmu.”
Pemilik penginapan yang membeli Moji dengan sepuluh keping perak berpesan demikian. Tapi begitu Moji masuk ke kamar, ia langsung yakin. “Apa yang kau lihat?”
Tamu itu tidak tertarik padanya. Moji tersentak dan menundukkan kepala.
“Pergi. Aku tidak butuh dilayani.”
“……”
Moji ragu-ragu. Jika ia langsung pergi, pasti pemilik akan memarahinya.
Ia harus mencari cara lain.
“Jubahmu sudah usang, Tuan.”
Oleh karena itu, ia menyebutkan soal jubah luarnya.
Memang warnanya gelap, jadi sulit terlihat, tapi jelas ada debu dan entah apa kotoran yang menempel. Mungkin sisa perburuan?
Tatapan tamu kembali tertuju padanya. Moji menegang.
“Hmm.”
Terdengar suara gumaman di tenggorokannya. Tamu yang sedang mengamatinya itu menyeringai. Ekspresi seakan melakukan keisengan lucu. Moji tanpa sadar menelan ludah.
“Ya, memang sudah usang. Harus kuganti yang baru.”
“Baik, baik.”
“Nah, buang yang ini, dan pergilah beli yang baru.”
Sebelum Moji sempat menjawab, jubah itu melayang dan menutupi kepalanya. Terkejut, ia mengibas-ngibaskan tangannya. Klontang. Koin-koin terlempar ke lantai.
“Belikan terpal, dan kembaliannya untukmu.”
Sibuk merapikan jubah dan memungut uang, Moji tidak sempat memastikan bahwa tamu itu lebih muda dari perkiraannya, dan pakaiannya dipenuhi noda daging dan darah.
Ketika Moji kembali menegakkan punggung, tamu itu sudah berendam di bak. Melihat lengan putih terlihat di tepi kayu, entah kenapa wajahnya terasa panas.
Sejenak tempat itu tidak lagi terlihat seperti penginapan yang dihuni tikus dan kutu, tapi seperti pemandian pribadi seorang raja.
Moji tergesa-gesa menutup pintu. Saat turun tangga, pemilik penginapan mengira ia sudah menyelesaikan urusan dengan tamu, dan tidak kena omelan panjang, sesuatu yang sudah lama tidak ia alami.
✦•······༻❁༺······•✦
Sementara itu, di pusat perniagaan Burung Pipit Besar, para pengikut setia sibuk memenuhi keinginan Rodner yang gemuk. Sorint adalah salah satu dari mereka.
“Tuan Sorint, ini catatan transaksi bulan lalu.”
Karena mahalnya kertas kulit, pembukuan hanya dicoret-coret di papan kayu. Memang tidak rapi, tapi itu tidak masalah bagi Sorint. Yang penting catatan itu ada di tangannya. Ini adalah hal yang paling dulu ia periksa di dalam pusat perniagaan.
‘Setelah perjuangan keras, akhirnya sampai ke tingkat ini.’
Mengingat betapa banyak usahanya untuk memuaskan Rodner, Sorint merasa terharu. Terkadang ia merasa pesimis saat harus datang ke utara yang gersang ini.
Tapi tertinggal berarti masih ada ruang untuk maju. Ia memiliki ambisi untuk terus naik lewat tangga di sini.
“Ini apa? Kenapa jual bulu dengan harga segini?”
Sayangnya, kenyataannya sedikit berbeda dengan semangat dan ambisi itu.
“Itu…”
Sorint mengangkat kepala setelah memeriksa buku catatan. Rekan satu pusat perniagaan itu menampilkan ekspresi sulit.
“Mereka bilang, persediaan bahan pangan yang bisa kami tukar tidak cukup…”
“Apa? Tapi kau mau saja menerima itu?”
Sorint menaikkan suaranya. Rekan satu pusatnya itu mengernyitkan bahu, tapi tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak enaknya.
Bagaimana mungkin dia, seorang rakyat biasa, bisa menghadapi ulah kasar para bangsawan?
“Sial.”
Sorint mengernyitkan wajahnya. Tidak ada malapetaka yang lebih buruk bagi perdagangan yang berkembang selain kelakuan kasar mereka.
‘Orang-orang bodoh itu…’
Ia teringat para prajurit yang mengancam dengan nada mengintimidasi saat ia pergi bertransaksi sebelumnya.
“Lalu, saat melewati Brosbi… Tuan tanah di sana meminta tambahan bea jalan.”
“Apa? Sudah kubayar, tapi mereka minta lagi?”
Sorint menggaruk belakang lehernya. Sial, si Grumhild ini. Selain lokasi terpencil yang tidak terjangkau pusat, cuaca dingin dan suram, yang paling membuatnya kesal adalah manusianya sendiri.
Di laut ada orang-orang barbar, di daratan ada tuan-tuan tanah yang terus-menerus memungut bea setiap kali mereka lewat di jalan dan jembatan yang rusak.
“Tanah terkutuk ini…. Uhh, bau apa itu?”
Sorint menjepit hidungnya. Rekannya buru-buru menutup jendela.
“Bau ikan. Karena ikan asin menumpuk.”
“Bau amis sialan ini!”
Di pelabuhan dekat sungai, tumpukan ikan asin berserakan. Bau busuk kerang-kerangan yang rusak terkena sinar matahari September terbawa angin.
Saat Sorint hampir muntah, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
“Masuk.”
“Tuan Sorint.”
Yang muncul adalah seorang prajurit bayaran menjaga pintu masuk. Sorint bertanya dengan ekspresi mual yang jelas terlihat.
“Ada apa?”
“Ada seseorang yang mencari Anda, Tuan Sorint.”
“Siapa?”
“Saya… tidak tahu.”
Melihat tubuh kekar tolol itu menggaruk-garuk kepala bingung, Sorint semakin marah. Perasaannya yang sudah buruk semakin memburuk.
“Kalau begitu cari tahu siapa dia, sial!”
Sebelum teriakan sampai ke lelaki itu, sosok muncul di ambang pintu.
“Selamat siang.”
Seseorang memakai jubah.
“Apa? Siapa yang menyuruhmu masuk sembarangan?”
Sorint yang risih bertanya. Prajurit itu bingung melihat orang di belakangnya.
“Eh, kapan dia datang?”
“Bodoh! Kau yang seharusnya tahu, bukan aku!”
Penjaga yang seharusnya menyaring pengunjung itu juga tidak tahu apa-apa. Hati Sorint semakin dongkol.
Ia menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Menyesali kenapa ia mempekerjakan orang dungu itu, meskipun di antara yang bisa ia rekrut, dialah yang terbaik.
Dilihat dari ukuran tubuh, ia sebanding dengan orang-orang Sakart. Secara fisik, tidak ada yang lebih tangguh darinya. Tapi tiap kali begini, Sorint menyesal.
“Maaf atas ketidaksopanan. Saya membawa surat dari Tuan Cambell Latuwin.”
Tamu tak diundang dengan wajah tertutup itu berkata dengan sopan. Sikap Sorint sedikit melunak.
Seharian ini ia hanya melihat orang-orang bodoh, jadi bertemu orang beradab seperti ini bahkan membuatnya senang.
Tapi, Latuwin? Siapa itu Latuwin lagi…?
“Latuwin? Apakah itu Latuwin yang dulu kuliah di Solzibra?”
“Benar.”
Lawan bicaranya mengangguk. Barulah Sorint ingat nama Cambell. Teman seangkatan dulu di universitas yang sama.
“Waktu itu masih mahasiswa, sudah lulus ya?”
“Ya. Ia sudah meraih gelar magister filsafat dan mengajar di wilayah sekitar.”
“Ah, begitu. Kudengar ia pindah ke sini.”
Sorint mengangguk samar. Ekspresinya ambigu, antara senang atau tidak.
Wajar saja, sebab ia memiliki rasa iri pada Cambell. Kakek buyutnya seorang bangsawan, tapi kakeknya hanya seorang ksatria miskin.
Pada generasi ayahnya, kedudukannya sudah tidak jauh berbeda dengan rakyat biasa yang cukup berkehidupan.
Dan kini ia sendiri terpaksa putus kuliah karena tidak mampu membayar uang kuliah, lalu menjadi pedagang. Sebenarnya alasan ia datang ke utara ini juga untuk melupakan kenangan masa lalu…
“Jadi, ada apa?”
Karena hubungan mereka tidak terlalu akrab, Sorint tidak bertanya banyak tentang kabar Cambell. Mungkin akan beda jika ia tahu sekarang Cambell sudah seperti puing-puing yang bergelinding di benteng.
“Ah, keluarlah.”
Sorint melambaikan tangan. Berbeda dengan rekannya yang tadi langsung pergi saat percakapan dimulai, prajurit itu masih berdiri tolol di sana. Baru kemudian pria itu menggaruk dagu lalu bergerak ke arah pintu. Brak! Pintu tertutup, meninggalkan suara geraman di dalam ruangan.
Otot di sekitar mulut Sorint berkedut, seolah sedang menahan umpatan.
“Pasti Anda sudah banyak mengalami kesulitan.”
“Apa?”
Sorint tersentak. Tamunya masih memandangnya.
“Anda pindah dari selatan ke sini, bukan? Jika Anda mengenal Tuan Cambell, pasti Anda adalah orang terpelajar dan terkemuka… Pasti Anda banyak berjuang beradaptasi di daerah kasar ini.”
“… Ya, benar.”
Ia merasa sedikit canggung. Ini pertama kalinya ia mendengar sapaan dengan kalimat dan formalitas yang baik.
“Kau ini siapa? Apa Cambell merekrutmu jadi muridnya?”
Niatnya hanya ingin mengambil surat lalu menyuruhnya pergi, tapi ia urungkan. Dari cara bicara dan sikapnya, sepertinya dia bukan sekedar pelayan.
Ah, ia masih memakai tudung itu.
“Lepaskan itu.”
“Baik, seperti yang Anda inginkan.”
Begitu selesai bicara, tudung itu terjatuh ke belakang. Siku Sorint yang ada di atas meja sedikit bergeser. Pemuda bak patung itu tersenyum. “Benar. Saya adalah muridnya. Nama saya… Ivan.”
Sorint tidak menyadari bahwa cara bicaranya baru saja diciptakan di tempat.
“Hmm, hmm.”
Ia berdeham untuk meredam kekacauan.
“Jadi, di mana surat yang kaubawa itu?”
“Ini dia.”
Sorint meraih gulungan perkamen yang disodorkan itu dengan tergesa. Begitu dibuka, tampak tulisan tangan yang mengalir lembut.
‘Cambell sialan itu memang pandai menulis.’
Kilasan kenangan muncul, membuat Sorint tiba-tiba merasa jengkel. Rasa inferioritas yang ia pendam kembali terusik.
Sebenarnya, bukan hanya tulisannya saja, tapi dalam hal akademis pun Cambell adalah murid unggul. Lulus tanpa ada nilai jelek selama 6 tahun S1 dan 3 tahun S2 adalah bukti kemampuannya. Mungkin kalau tidak kekurangan biaya, ia sudah meraih gelar doktor.
“Ini surat keterangan diri? … Jadi orang yang membawa surat ini adalah murid terbaiknya, dan ia memintaku untuk memperlakukannya dengan baik karena bakatnya?”
✦•············༻❁༺············•✦