Taring yang Menusuk Hati - Chapter 19
✦•············༻19༺············•✦
“Tidak, jika itu memang perintah dari orang tertinggi di tempat ini, saya harus mematuhinya.”
Penunggang itu berkata dengan tenang.
Tentara itu memang jelas mendengar sesuatu, tapi sikap orang itu yang begitu acuh membuatnya terbawa suasana.
“Jika tidak membawa barang bawaan, cukup satu keping perak.”
Jumlah yang tak masuk akal. Penunggang yang sedang mengaduk-aduk sakunya terhenti. Si tentara juga merasa tidak enak hati dan memutar bola matanya.
Biaya seperti ini lah yang membuat impian para petani di kawasan itu pupus. Bahkan setelah susah payah membayar pajalan, mereka harus menghadapi biaya masuk, yang membuat mereka patah semangat.
“Serigala menjadi raja di liang harimau yang kosong.”
“Apa katamu?”
“Tidak, ini, ambillah.”
Penunggang melemparkan keping perak itu. Pria yang susah payah menangkapnya sedikit terkejut. Ia memang tidak menyangka akan sanggup membayar.
Apakah ia orang yang kaya…? Saat ia memandangi penampilannya dari atas ke bawah, tiba-tiba ia merasa tak nyaman karena tak bisa melihat wajah penunggang itu.
“Lepaskan tudungmu itu.”
“…”
Tak jelas apakah penunggang itu mendengarkan atau tidak, ia hanya diam. Si tentara menaikkan suaranya.
“Hei, kau dengar tidak? Lepaskan tudung itu.”
“Penampilanku tidak begitu baik, akan membuat matamu tak nyaman.”
“Itu biar aku yang menilai. Lepaskan saja.”
Dari sikapnya yang menolak, tiba-tiba saja timbul kecurigaan di hati si tentara.
Apa yang ia sembunyikan? Kalau dipikir-pikir, datang sendirian juga aneh.
Daerah ini memang kacau, bahkan pedagang saja tak berani berkeliling tanpa pengawal. Lalu bagaimana bisa orang ini sampai ke sini dengan selamat?
Noda di perkamen tadi juga… Semakin curiga, si tentara mengeraskan suaranya pada lawan bicaranya yang mencurigakan itu.
Dan tiba-tiba ia teringat pertanyaan yang sempat terlewat.
“Kau bilang kau datang dari mana?”
Ia mengulang pertanyaan yang sebelumnya tak sempat dijawab. Penunggang itu diam. Ia hanya memandang si tentara dari atas kuda hitamnya.
Hening sejenak. Tanpa sadar, telapak tangan si tentara mulai berkeringat. Ia merasakan ketegangan yang tak jelas.
“Sebenarnya, aku sedang kenyang sekali saat ini.”
Akhirnya penunggang itu angkat bicara.
“Beberapa hari ini aku makan banyak, kau tahu. Di istana aku menikmati jamuan makan malam, dan di jalan aku juga mencuri-curi makanan. Perampok-perampok itu bahkan tidak mandi, baunya sungguh menyengat. Tapi yah, secara keseluruhan masih bisa ditolerir.”
Tentara itu tak bisa mengikuti alur pembicaraan. Apa hubungannya makanan dan perampok dengan semua ini? Penunggang itu berkata,
“Jadi, sebenarnya aku tidak berniat mengganggu penjaga pintu yang sudah tua ini. Tapi sekarang pikiranku mulai berubah.”
Meskipun tentara itu tak begitu memahami maksudnya, setidaknya ia tahu bahwa itu merupakan ancaman awal.
Saat ia mundur secara naluriah, penunggang itu membuka tudungnya. Mata merahnya menatap lekat si tentara. Bersamaan dengan itu, tangan kasarnya yang berada di gagang pedang terhenti. Dengan wajah dingin bak patung, pemuda itu bertanya,
“Adakah gereja di sini?”
Tentara itu tak ingin menjawab. Tapi lidahnya bergerak sendiri, di luar kehendaknya.
“Tidak ada.”
“Syukurlah.”
Pemuda itu tersenyum. Seolah memberi pujian, ia meletakkan tangannya di atas kepala tentara itu. Dan menekannya.
“Ugh…!”
Dari tekanan di kepalanya, tentara itu mengerang. Wajahnya memerah padam, urat di pelipisnya menyembul. Alih-alih meminta ampun, kata-kata lain malah terlontar dari mulutnya.
“Tapi ada sebuah biara di sana.”
Cengkeraman yang seperti hendak memecahkan kepala bagai semangka itu pun melonggar. Terdengar suara, “…Lanjutkan.”
Tunduk pada perintah itu, tanpa sadar si tentara menyerahkan informasi. “Sekitar tiga hari perjalanan dari sini. Kadang para rahib turun ke sana untuk membeli kebutuhan pokok.”
Tekanan di kepalanya semakin melemah. Wajah pria yang semula memerah itu kembali normal. Tangan di puncak kepalanya kini hanya bertengger tanpa beban. Pemuda itu menengadahkan kepala.
“Hah.”
Terdengar seperti helaan napas, atau bisa juga seperti keluhan.
“Sekarang aku bahkan harus memperhatikan makhluk-makhluk yang terkubur di dalam hutan.”
Ia mendongak, menatap langit mendung, lalu menurunkan dagunya. Terkadang ia memang merasa jengkel, meskipun pada umumnya ia sangat sabar.
Melawan para pecundang yang bergerombol seperti serangga saja, tubuhnya masih terlalu lemah. Bahkan untuk sekedar menyentuh sampah di depan mata pun ia tak bisa sesuka hati!
“…Yah, memang harus bisa menunggu sampai buahnya matang.”
Iblis itu menghela napas. Lalu memberi perintah pada apa yang ia genggam di bawah tangan.
“Nah, jelaskan padaku tentang tempat ini.”
“Salifa adalah…”
Lidah tentara itu bergerak tanpa kendali tuannya. Tentang serikat dagang Burung Gereja Besar dan pimpinannya, Lord Rodner. Betapa ironi julukan Kota Bebas itu.
“…Begitulah keadaannya.”
Setelah melontarkan segala informasi yang ia tahu, tentara itu terdiam. Baik dari posisinya maupun tingkat pengetahuannya, ia tak bisa menjelaskan lebih jauh lagi.
“Begitu ya. Terima kasih atas informasinya.” Pemuda dengan mata merah itu berkata dengan lembut.
Kesadaran tentara itu kembali pulih. Ia terlihat bingung.
“Tadi aku sedang membicarakan apa ya?”
“Anda mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan penginapan yang menarik biaya mahal.”
“Ah.. Iya, begitu.”
Tentara itu bergumam dengan tatapan kosong, sembari memegangi kepalanya yang berdenyut.
“Sebaiknya Anda hindari Penginapan Tanduk Rusa, mereka jarang membersihkan kotoran di sana.”
“Terima kasih atas sarannya.”
“Ya, mm… Begitu. Masuklah.”
Tentara itu mengisyaratkan dengan tangan ke arah pintu masuk. Tiba-tiba pemuda yang kini kembali mengenakan tudung itu menundukkan kepala. Atau, kapan ia melepas tudungnya? Tentara itu mengernyit memandang pikirannya sendiri.
‘Semalam aku minum terlalu banyak, jadi ingatanku jadi kacau.’
Memandangi punggung pemuda yang memasuki kota, tentara itu menggeleng-gelengkan kepala. Lalu ia kembali memandang pemandangan biasa di sekitarnya.
✦•······༻❁༺······•✦
Dengan bau amis ikan, Abel memasuki kawasan pusat kota. Ia mencari penginapan terbesar, karena tempat yang terlalu kecil mungkin tak memiliki kandang kuda.
Kuda hitam ini, yang hampir menjadi milik tuan muda bangsawan itu, lebih berguna dari perkiraannya.
‘Kalau sampai hilang, pasti Edwin akan sangat sedih.’
Ia membayangkan anak laki-laki itu yang menjadi abu di dalam istana, lalu mengernyitkan dahi.
Dengan mempertimbangkan usahanya sendiri yang telah menjadi nutrisi bagi anak itu, bukankah sudah sepatutnya ia memperlakukan warisan terakhirnya dengan baik? Tidak hanya Edwin, tapi manusia-manusia lain juga demikian.
“Satu kamar seharga empat keping koin, tidur di lobi dua keping, makan tiga keping, dan mandi lima keping.”
Setelah berhenti di depan penginapan, seorang pelayan yang sedang menyapu langsung merapalkan harga tanpa mengangkat wajah.
“Lalu, berapa untuk kandang kudanya?”
Barulah pelayan itu mengangkat kepala. Dan ia menemukan tamu yang turun dari kuda.
“Termasuk pakan, tiga keping per harinya.”
Pelayan itu menjawab dengan lebih hati-hati. Meskipun kuda tua dan sakit sekalipun, harganya masih lebih mahal dari tuannya. Kuda hitam di depannya jelas merupakan binatang muda dan berkualitas baik. Pasti tuannya juga bukanlah orang sembarangan.
“Mandi dulu, baru makan.”
Sebuah koin perak melayang. Saat pelayan itu kebingungan bagaimana mengembalikannya, tamu itu berkata, “Pakai sisa uangnya untuk menutup mulut.”
Anak laki-laki yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan kasar sejak masih kecil itu peka. Ia mengerti bahwa tamu ini tidak ingin identitasnya diungkap.
Bagaimanapun juga, Utara adalah daerah yang keras. Banyak orang yang melarikan diri ke sana dengan berbagai alasan.
“Baiklah.”
Jika dengan memasang kunci pada mulutnya ia bisa mendapatkan upah beberapa hari, itu adalah keuntungan baginya.
“Saya akan menyiapkannya tuan muda.”
Oleh karena itu, pelayan itu berteriak riang setelah lama tidak begitu. Tamu itu, entah mendengarnya atau tidak, tiba-tiba menghilang ke dalam penginapan.
Tok tok. Terdengar ketukan tangan yang lemah pada pintu. Dari dalam terdengar suara.
“Masuklah.”
Kreeeek. Dengan izin itu, seorang pelayan wanita membuka pintu dengan hati-hati. Di kedua tangannya ada ember kayu yang berisi air berasap. Ia harus berjalan hati-hati agar tidak menumpahkannya.
“Ai, a-air panas.”
Pelayan wanita itu tergagap. Tamu yang berdiri di dalam menoleh. Seorang gadis kecil membawa bak mandi kayu sebesar tubuhnya, melangkah dengan goyah.
Dilihat seksama, sepertinya gadis itu sekitar dua belas tahun. Pelayan wanita itu menunduk malu di bawah tatapan tamu. Dengan susah payah, ia meletakkan air di lantai. Uap panas menyembur naik, hingga mencapai langit-langit yang ditumbuhi jamur.
“Mandi…”
Pelayan itu menggerakkan jari-jarinya di bawah tatapan tamu.
“Anda… harus… mandi…”
“Aku akan mandi. Pergilah.”
Suara tanpa emosi itu terdengar. Pelayan itu tersentak.
Abel berniat melepas pakaian, tapi ia menatap kembali orang yang belum juga pergi. Gadis itu terlihat ingin segera melarikan diri, tapi ia tetap berdiri di tempatnya.
“Apa ada lagi yang harus kaulakukan?”
“Saya… harus… memandikanmu…”
“Memandikan?”
Abel tertawa. Barulah ia menyadari mengapa biaya mandi lebih mahal daripada sewa kamar.
Itu sudah termasuk biaya jasa melayani. Bagi tamu pria, “melayani” itu biasanya berarti melayani di bagian bawah.
“Memandikan…”
Gadis yang terlihat kurang memadai itu tampak ragu-ragu apakah harus melepas pakaiannya. Dari sikap canggungnya, Abel menyimpulkan bahwa gadis ini belum berpengalaman.
“Apa ini pertama kalinya bagimu?”
“Pe, pertama kali…”
Pelayan itu tergagap. Sepanjang berbicara, ia terus menatap Abel. Seolah sengaja bersikap lamban.
Tapi Abel tidak memarahi gadis bodoh itu. Sebaliknya, ia bertanya, “Siapa namamu?”
Ini bukan pertanyaan yang sering ia lontarkan. Gadis itu berjengit di bawah tatapannya, seolah sedang mengamati serangga yang menarik.
“Mo, mo, Moji.”
“Namamu apa?”
“Mo, Moji.”
Pelayan itu mengulangi. Sepertinya ia mengira Abel akan marah.
Tapi Abel justru bertanya lagi.
“Nama lengkapmu Moji?”
“I-iya, iya, iya.”
Moji mengangguk cepat. Di balik tudung, terdengar tawa meledak.
“Moji? Haha, hahaha.”
Pelayan itu terperanjat dan mundur selangkah. Ia melirik-lirik ke arah Abel.
✦•············༻❁༺············•✦