Siapa yang Membunuh Pahlawan? - Chapter 4
Di akademi ini, para murid dibagi berdasarkan class yang mereka pilih, seperti warrior, priest, dan magician. Namun, mereka hanya mempelajari bidang khusus mereka saja. Ini benar-benar di luar dugaanku.
Karena akademi ini dikenal sebagai “Sekolah yang melahirkan Hero”, aku berpikir di kelas warrior pun akan ada pelajaran tentang sihir serangan atau sihir penyembuhan. Tapi ternyata, karena mengajarkan pertarungan jarak dekat dan sihir secara bersamaan dianggap tidak efisien, dan sihir membutuhkan bakat alami, pelajaran dipisahkan sepenuhnya.
Meski begitu, aku tidak bisa menyerah begitu saja. Seorang hero harus bisa menggunakan sihir serangan dan sihir penyembuhan. Lagipula, aku merasa sangat membutuhkannya.
“Bisakah kau mengajariku sihir penyembuhan?”
Orang yang kutanya adalah Maria Loren, seorang terkenal dari kelas priest. Dia memiliki rambut hitam panjang dan kulit putih yang hampir tembus pandang—sangat cantik. Dari semua orang yang pernah kutemui, dia mungkin adalah wanita tercantik.
Tentu saja, aku tak bertanya karena dia cantik. Saat murid lain sibuk dengan pelajaran mereka, hanya Maria yang terlihat tenang. Jadi, aku berpikir dia mungkin bersedia mengajariku sihir penyembuhan. Selain itu, dia dikenal sebagai calon “Santo” dan dipuji karena kebaikannya.
“Aku rasa seorang warrior tak perlu menggunakan sihir penyembuhan, bukan?” jawabnya sambil tersenyum.
“Aku ingin menjadi hero. Karena itu, aku ingin bisa menggunakan sihir juga.”
Begitu aku mengatakan itu, mata Maria melebar. Orang-orang di sekitar kami mulai berbisik-bisik.
“Begitu, ya… Memang benar, hero digambarkan sebagai seseorang yang harus bisa melakukan semua itu. Tapi, apa kamu tau sekarang ini menggabungkan pedang dan sihir dianggap tidak efisien? Itu sebabnya banyak yang tidak merekomendasikan itu.”
“Aku tahu. Guru juga mengatakan hal yang sama, dan menolak mengajarku sihir penyembuhan.”
“Ah, jadi karena guru menolak, lalu kau datang padaku?”
“Benar. Aku mendengar kau adalah yang terbaik di kelas priest, dan kau dikenal baik hati seperti seorang Santo. Jadi, aku berpikir mungkin kau mau mengajariku.”
“Kau ini, itu terdengar sangat lancang? Hanya karena Maria baik hati, kau langsung memintanya mengajarimu?” seorang gadis dari kelas priest lainnya menyela. Dia bertubuh agak gemuk dengan wajah tegas, lebih cocok sebagai warrior daripada priest.
“Tidak apa-apa,” Maria berkata lembut kepada gadis itu.
“Memang, aku masih jauh untuk menjadi seorang Santo, aku juga masih belajar. Tapi membimbing orang lain adalah bagian dari tugas seorang pelayan Tuhan. Jika aku punya waktu, aku dengan senang hati akan mengajarimu tentang Tuhan.”
Maria tersenyum penuh kasih sayang.
Orang-orang di sekitar kami pun mulai memujinya.
“Betapa baik hatinya,” “Seperti yang diharapkan dari Santo,” “Sungguh mulia, mau mengajarkan ajaran Tuhan pada orang biasa seperti dia.”
Saat itu, aku sangat berterima kasih pada Maria dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Namun, tak lama kemudian, aku menyadari sesuatu.
Kata-kata Maria, “Aku masih jauh dari menjadi seorang Santo,” ternyata bukan kebohongan.
────
Beberapa waktu setelah itu, saat aku sedang berlatih mengayunkan pedang di belakang bangunan sekolah, Maria mendekatiku.
“Ares, bisakah kita bicara sebentar?”
“Oh, Maria. Apa kau akan mengajariku sihir penyembuhan?”
“Tidak. Mengajarkan sihir penyembuhan pada seseorang yang tidak bisa merasakan keberadaan Tuhan itu sia-sia. Itu seperti mencoba mengajarkan aritmatika pada seekor monyet. Paham?”
“…Yah, sedikit.”
Meskipun aku merasa terganggu dibandingkan dengan monyet, setidaknya aku berusaha untuk menerima penjelasannya.
“Jadi, bagaimana caranya agar aku bisa merasakan keberadaan Tuhan?”
“Belilah roti yang enak.”
Maria tersenyum manis.
“Apa? Roti? Apa hubungannya itu dengan Tuhan?”
“Jangan bertanya. Rasakan saja. Ayo, belikan roti. Cepat.”
Meski tak sepenuhnya mengerti, aku adalah posisi yang belajar, jadi aku segera berlari secepat mungkin untuk membeli roti.
Setelah aku membeli roti yang terlihat paling enak di toko akademi, aku kembali ke belakang bangunan sekolah dengan roti di tangan.
“Apa ini?”
Maria memandang roti yang kubeli dengan tatapan dingin, seolah melihat bangkai serangga.
“Apa maksudmu? Ini roti.”
“Hah…”
Maria menghela napas panjang, terdengar berlebihan.
“Kau tak mengerti. Aku meminta roti yang enak. Apa kau sudah berbicara dengan Tuhan? Menanyakan, ‘Di mana roti yang enak?'”
“Apa? Tuhan tahu di mana roti yang enak?”
Apakah Tuhan penggemar roti?
“Tuhan itu maha tahu, jadi Dia tahu segalanya. Termasuk roti dan kue yang enak. Kau seharusnya merasakan kehadiran Tuhan saat membeli roti, bukan cuma membeli di toko yang dekat saja. Itu penghinaan terhadap Tuhan.”
Tampaknya, mencari roti yang enak adalah langkah pertama untuk memahami Tuhan… atau…
“Yah, baiklah. Untuk kali ini, aku akan memaafkanmu dengan roti ini. Aku baik hati, dan kebetulan juga lagi lapar.”
“Hah?”
Aku hanya disuruh beli roti karena dia lapar.
“Pastikan tidak mengulangi kesalahanmu ini, ya.”
Maria mengambil roti dariku lalu pergi.
────
Dii musim dingin, Maria memanggilku untuk ke tepi sungai.
“Aku yang pemaaf ini, telah menentukan ujian untukmu.”
Pada saat itu, aku cuma bisa merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
“Eh, sebenarnya, aku lebih suka diajari dengan cara yang normal saja.”
“Itu tidak akan mungkin! Kau tak bisa merasa keberadaan Tuhan, padahal dari kecil kau diajari pendeta, kan? Cara normal jelas tidak akan berhasil.”
Maria menunjukkan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.
“Aku telah merancang ujian ini secara khusus untuk anak domba yang malang sepertimu. Masa kau akan menolak?”
“Kalau kau bilang begitu, aku tidak bisa menolak, tapi…”
“Bagis. Baiklah, ayo kita mulai.”
Maria mengambil batu di tepi sungai dan berdoa di hadapannya. Batu itu mulai bersinar dengan redup karena berkah Tuhan.
“Ambillah batu ini.”
Aku menerima batu yang berpendar lembut.
“Lalu?”
“Lempar batu itu ke sungai. Semakin jauh, semakin baik.”
Aku menurut dan melempar batu itu sekuat tenaga ke arah sungai yang lebarnya cukup besar. Batu itu jatuh di tengah sungai dengan bunyi “plung.”
“Sekarang, ambil kembali batunya.”
“Apa!?”
Apa yang baru saja dia katakannya?
“Batu ini diberkahi oleh Tuhan. Jika kau bisa merasakan keberadaan Tuhan, kau pasti bisa menemukannya dengan mudah.”
“Tidak, tunggu. Tidak ada alasan untuk mencari batu di dasar sungai, kan?”
Melihat kedalaman air dan arus yang cepat, sepertinya mencarinya di dalam sungai adalah sebuah pemikiran yang sangat gila.
“Hah… Apa yang kau bilang.”
Maria menghela napas panjang.
“Kau tak bisa merasakan keberadaan Tuhan dalam kehidupan sehari-harimu, kan? Jadi, kau harus menempatkan dirimu dalam kondisi berbahaya agar bisa merasakannya. Kau paham maksudku?”
“Kalau kau bilang begitu, ya… rasanya masuk akal juga.”
“Senang sekali mendengarnya.”
Maria tersenyum lebar.
“Baiklah, semangat, ya.”
Selama tiga jam berikutnya, aku mengalami penderitaan luar biasa di air sungai yang dinginnya seperti es. Karena dasarnya tertutup lumpur, aku bahkan tidak bisa melihat batu yang bersinar itu. Aku mencoba mengambil beberapa batu secara acak dari dasar sungai, lalu dia berkata, “Apa matamu sudah rusak?” dan Maria dengan kejam melempar batu-batu itu kembali ke sungai.
Setelah berkali-kali gagal, aku akhirnya menemukan batu yang benar dan hampir mati
Saat keluar dari sungai. Saat itu, Maria tersenyum jahat dan berkata, “Apa kau bisa merasakan keberadaan Tuhan?”
“Yah, kalau merasakan hampir dipanggil Tuhan, mungkin aku benar-benar merasakannya.”
Aku menjawab dengan penuh sarkasme.
“Lalu, kau tinggal selangkah lagi.”
Dia tersenyum, tak peduli dengan sindiran itu.
Dan aku berpikir, langkah terakhir itu pasti akan membunuhku…
────
Ujian dari Maria berlanjut setiap minggu, tapi sampai tahun ketigaku, aku masih belum bisa menggunakan sihir penyembuhan. Satu-satunya hal yang kupelajari hanyalah lokasi toko roti dan kue terenak di ibukota.
Ketika aku menyebutkan hal itu pada Maria, dia berkata, “Jika kau tahu tempat-tempat yang menjual kue enak, itu akan menyenangkan para wanita. Suatu saat, itu akan berguna.”
Tapi aku tidak bisa membayangkan masa depan di mana aku bisa dekat dengan wanita, apalagi seorang healer sepertinya…
Aku mulai meragukan efektivitas ujiannya, tapi karena tidak ada orang lain yang bisa kuandalkan, aku tak punya pilihan selain percaya padanya.
Namun, suatu hari, sesuatu berubah. Aku mulai secara ajaib lebih mahir menemukan roti dan kue yang enak.
“Mungkinkah ini adalah suara Tuhan?”
Penasaran, aku melafalkan doa yang pernah diajarkan padaku, dan aku berhasil menyembuhkan salah satu luka kecil di lenganku.
“Berhasil! Apa yang Maria katakan ternyata benar!”
Jujur saja, aku hampir menyerah, jadi kegembiraanku tak tertahankan.
Betapa bodohnya aku karena sempat meragukannya! Seandainya aku mempercayainya sejak awal, mungkin aku sudah bisa menguasai penyembuhan jauh lebih cepat.
Dengan menyesal dan penuh rasa syukur, aku segera pergi ke kelas priest untuk mengucapkan terima kasih pada Maria.
“Terima kasih, Maria! Aku sudah bisa menggunakan sihir penyembuhan!”
“…Serius!?”
Ekspresi terkejut Maria saat itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.