Siapa yang Membunuh Pahlawan? - Chapter 3
“Bagiku, dia juga seorang hero.”
Ketika ditanya tentang hubungannya dengan sang hero, dia menjawab dengan senyum lembut.
Maria Loren, seorang saint yang bertugas sebagai healer dalam kelompok hero. Saat ini, dia menjabat sebagai seorang uskup, mengelola operasional gereja. Dia dikenal sebagai “Santo Maria” karena memperkenalkan reformasi yang memungkinkan penggunaan keajaiban ilahi—sihir penyembuhan, yang sebelumnya hanya digunakan untuk bangsawan, juga dapat diberikan pada rakyat biasa.
“Hubungan kami dimulai sejak masa akademi. Suatu hari, dia tiba-tiba mendekatiku dan berkata, ‘Bisakah kau mengajarkanku sihir penyembuhan?’
Awalnya, kupikir dia sedang mencoba merayuku. Setiap kali seorang pria berbicara padaku, biasanya selalu dengan tujuan yang sama.”
Maria tertawa kecil, seolah mengingat hal lucu. Rambut hitam panjang seperti sutra, kulit putih sehalus porselen, dan mata yang penasaran—bahkan dalam kisah ke-hero-annya, kecantikannya sering dipuji. Hingga kini, kecantikan itu masih terpancar.
“Tapi setelah mendengarnya, aku menyadari jika dia serius. Dia benar-benar percaya seorang hero harus mampu menggunakan sihir serangan sekaligus sihir penyembuhan.”
Pada dasarnya, seorang hero memang dianggap sebagai seorang prajurit yang dapat menggunakan baik sihir serangan maupun sihir penyembuhan, dan hingga kini, pemahaman itu tetap ada. Apakah itu hal yang aneh?
“Memang aneh. Lebih tepatnya, sihir serangan dan penyembuhan membutuhkan bakat bawaan. Di masa itu, dipercaya mustahil bagi seseorang untuk memiliki keduanya sekaligus menjadi prajurit yang hebat.”
Namun, karena dia adalah seorang hero yang akan mengalahkan Raja Iblis, bukankah hal yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin?
“Jika kau berpikir seperti itu, memang benar. Tapi selama 200 tahun, tidak ada satu orang pun yang memiliki kedua kemampuan itu. Bahkan di akademi, pada awalnya mereka mencoba melatih prajurit yang bisa menggunakan sihir serangan dan penyembuhan, tetapi karena sangat tidak efisien, mereka segera menghentikan pelatihan itu. Secara alami, kedua jenis sihir itu tak cocok satu sama lain.
Sihir adalah cara memahami hukum alam melalui mana, sedangkan sebagai saint, kami melihatnya sebagai berkat dari Tuhan yang kami salurkan. Jadi, karena cara pandang yang berbeda, sulit untuk menguasai keduanya.”
Perbedaan antara sihir serangan yang digunakan oleh penyihir dan keajaiban ilahi yang dikenal sebagai sihir penyembuhan telah menjadi bahan perdebatan hingga saat ini. Meskipun ada beberapa yang berhasil menguasai keduanya, biasanya mereka hanya mampu melakukannya pada tingkat yang sangat rendah.
“Selain itu, pelatihan prajurit dan pelatihan sebagai saint sangatlah berbeda. Di akademi, kelas dibagi sesuai dengan profesi yang diinginkan, untuk meningkatkan efisiensi melalui spesialisasi.”
──Jadi, kau mengajarkan sihir penyembuhan pada Ares?
“Aku penasaran. Aku ingin tahu apakah seseorang tanpa bakat bisa menerima anugerah Tuhan.”
Maria masih tersenyum dengan lembut, meskipun topik yang dibahas cukup tajam. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan bakat sebagai saint?
“Apakah seseorang bisa merasakan kehadiran Tuhan atau tidak—itu saja. Keimanan tidak ada hubungannya.”
Dia dengan tegas menolak hubungan antara bakat dan keimanan.
“Keimanan bisa menjadi lebih kuat karena merasakan kehadiran Tuhan, tapi tidak berarti keimanan yang kuat membuat seseorang bisa merasakan Tuhan. Aku sudah melihat banyak orang yang lebih beriman dariku. Tapi, apakah mereka merasakan kehadiran Tuhan? Tidak. Itu murni masalah bakat.”
Meskipun sudah diketahui secara luas menjadi seorang saint membutuhkan bakat bawaan—anugerah Tuhan, pernyataan Maria yang memisahkan bakat dari keimanan cukup mengejutkan, terutama dari seorang uskup.
“Ini bukan hal yang terlarang. Hanya saja, banyak orang yang tak mau menerima fakta itu.
Nah, kembali ke topik. Dia tidak punya bakat, dan bahkan tidak memiliki keimanan. Dia selalu bertanya, ‘Jika Tuhan benar-benar ada, mengapa monster juga ada?’ Sebuah pandangan yang sangat blak-blakan, tetapi banyak prajurit yang bertempur melawan monster berpikir seperti itu.”
Hubungan antara Tuhan dan monster sering menjadi bahan perdebatan, dan para saint biasanya menghindari menjawab dengan pasti, dan hanya berkata “Tuhan memiliki rencana yang lebih jauh lagi.”
“Jadi, aku menjadi tertarik. Aku ingin tahu apakah seseorang tanpa bakat dan tanpa keimanan bisa belajar sihir penyembuhan. Itu sebabnya aku mulai mengajarkannya.”
Apakah mengajarkan sihir penyembuhan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah?
“Tidak, tentu saja tidak. Terutama pada seorang tanpa bakat. Meminta seseorang yang tidak pernah merasakan kehadiran Tuhan untuk ‘merasakan kehadiran-Nya’ adalah hal yang sangat sulit. Itu seperti mengajarkan seekor anjing untuk berbicara.”
Namun, tampaknya itu berhasil. Dalam kisah kepahlawanan, dikatakan sang hero bisa menggunakan keajaiban Tuhan.
“Apakah bisa disebut berhasil? Dia memang perlahan-lahan mulai merasakan kehadiran Tuhan setelah menerima bimbinganku. Butuh lebih dari dua tahun, tetapi akhirnya dia bisa mempelajari sihir penyembuhan dasar.”
Jika dia berhasil mempelajarinya, bukankah itu sebuah keberhasilan?
“Jika dia seorang calon saint, seharusnya dia bisa mempelajarinya dalam waktu sekitar sebulan. Lebih lagi, jika seseorang memiliki bakat, mereka akan mempelajarinya secara alami tanpa disadari. Tapi dia? Selama dua tahun penuh, tidak ada kemajuan sama sekali. Aku benar-benar tak mengerti bagaimana dia bisa terus berusaha.”
Mungkin karena terus berlatih sihir penyembuhan meskipun tanpa hasil, itulah sebabnya dia bisa menjadi seorang hero?
“Apakah begitu? Awalnya, aku juga menganggapnya menarik. Aku pikir, ‘Tentu saja, orang tanpa bakat tidak akan bisa menggunakan keajaiban Tuhan.’ Namun, meskipun tak ada tanda-tanda kemajuan, dia tetap melatih sihir penyembuhan selama dua tahun penuh. Kebanyakan orang akan menyerah setelah tiga bulan tanpa hasil. Jika mereka memiliki bakat atau keimanan, mungkin mereka bisa terus berusaha. Tapi dia tak punya keduanya.”
──Apakah kau tidak mengerti mengapa Ares terus berlatih sihir penyembuhan?
“Pahlawan legendaris dari masa lalu konon bisa menggunakan sihir penyembuhan, tetapi kami tak tahu apakah itu benar. Selain itu, selama lebih dari 10 tahun hingga sekarang, peran dalam sebuah kelompok telah dibagi dengan jelas. Tugas seorang prajurit adalah berfungsi di garis depan, jadi tak perlu menggunakan sihir penyembuhan. Ini adalah hal yang umum. Karena itu, bukan hanya aku, tapi semua orang di akademi merasa aneh melihat dia berlatih sihir penyembuhan.”
Jika dipikir-pikir, memang benar seorang prajurit di garis depan tidak perlu menggunakan sihir penyembuhan. Tentu saja, jika bisa, itu akan sangat berguna, tetapi selama kelompok berfungsi dengan baik, kebutuhannya akan sedikit.
“Begitulah. Meski begitu, aku hanya mengajarinya tentang keberadaan Tuhan, aku tidak terus-menerus mengawasi latihannya. Aku beberapa kali memperingatkannya dia ‘tidak memiliki bakat,’ tetapi pada akhirnya, aku tak bisa menghentikannya.”
──Tapi Ares berhasil mempelajari sihir penyembuhan?
“Telah terbukti, bahkan tanpa bakat atau keyakinan, seseorang bisa belajar menggunakan sihir penyembuhan. Hanya saja, yang dia kuasai hanyalah sihir penyembuhan dasar, jadi aku pikir itu tak terlalu penting.”
Sihir penyembuhan dasar hanya bisa menyembuhkan luka kecil atau memar.
“Luka dan rasa sakit ringan seperti itu akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, jadi kami tak menganggapnya terlalu berarti. Bahkan di kalangan saint, adalah hal yang umum untuk tidak perlu menyembuhkan luka-luka kecil selama pertempuran. Jika kita terlalu peduli pada luka-luka kecil itu, tidak akan ada habisnya. Namun, dia tahu betapa pentingnya menyembuhkan luka-luka kecil tersebut.”
──Apakah penting untuk menyembuhkan luka-luka kecil juga?
“Meskipun terlihat sepele, jika dibiarkan, gerakan akan menjadi lamban. Lebih tepatnya, luka sekecil apa pun, besar atau kecil, akan memengaruhi gerakan, jadi jika ingin terus bergerak dengan kekuatan penuh, semua luka harus disembuhkan. Aku menyembuhkan luka-luka besar yang dia alami, dan dia sendiri menyembuhkan luka-luka kecilnya. Cara bertarungnya yang gigih hanya mungkin terjadi karena adanya sihir penyembuhan dasar.”
Dalam kisah-kisah kepahlawanan, Ares dipuji atas ketangguhannya, selalu maju tanpa menyerah dan takut. Apakah rahasianya terletak pada sihir penyembuhan dasar?
“Ya, benar. Dia memahami betapa pentingnya memperhatikan hal-hal kecil. Bahkan ketika menghadapi iblis yang sangat kuat, dia mengalahkannya dengan mengatasi luka-luka kecil yang terus menumpuk. Ketika menghadapi kesulitan yang tampak mustahil, dia menerobosnya dengan usaha yang terus -menerus. Mungkin terdengar sederhana tetapi itu memakan waktu yang sangat lama.”
Pernah ada pertempuran yang berlangsung selama tiga hari tiga malam sebelum musuh dikalahkan. Setelah itu, semua orang langsung tertidur di tempat. Jika mereka diserang pada saat itu, kami semua pasti akan hancur.
Maria tersenyum mengingat kejadian tersebut.
Namun, jika terus seperti itu, bukankah perjalanan mereka akan menjadi sangat panjang?
Perjalanan sang hero seharusnya tidak terlalu panjang.
“Ya, jika semuanya diserahkan padanya, perjalanannya pasti akan sangat lama. Namun, baik Leon, Solon, maupun aku, kami semua sangat berbakat, jadi sebagian besar masalah bisa diselesaikan dengan cepat. Kami bahkan pernah berkata padanya, ‘Jika semuanya diserahkan padamu, Raja Iblis akan mati karena usia tua.’
Kami semua memang sedikit arogan, jadi mungkin kami mencoba meremehkannya dengan mengatakan hal itu. Tapi setiap kali, dia hanya tertawa, menggaruk kepalanya, dan berkata, ‘Terima kasih, kalian telah banyak membantu.’ Pada akhirnya, kami merasa seperti orang bodoh.”
──Kamu menjawab dengan riang, tapi apakah kamu pernah menyukai Ares?
“Aku sudah sering menjawab pertanyaan itu. Setiap kali, jawabanku tetap sama. Aku tidak pernah menyukai Ares. Itu adalah kebenarannya.”
Tidak ada kebohongan dalam ekspresinya saat dia berkata demikian.
──Ada rumor kamu tidak bisa melupakan Ares dan karena itu tetap melajang.
“Pertanyaan itu sangat pribadi. Aku hanya melewatkan waktu untuk menikah. Jika aku memiliki sedikit lebih banyak keberanian, mungkin aku sudah menikah sejak lama. Meskipun dikenal sebagai santo, pada kenyataannya aku hanyalah seseorang yang sangat penakut.”
──Mengapa sang hero mati?
“Itu memang menyedihkan, tapi mungkin itu kehendak Tuhan. Peran yang harus dijalankan oleh Ares sepertinya memang seperti itu.”
*****