Regressor, Possessor, Reincarnator - Chapter 1
༺══════~~~~~~~~~~✦❁❁❁❁✦~~~~~~~~~~═══════༻
Aku adalah kakak yang tidak berguna. Ya, aku adalah kakak yang menyedihkan, iri pada adik sendiri. Bagiku, Julius hanyalah pesaing yang mengancam posisiku sebagai pewaris. Kepribadiannya yang ceria sangat kontras dengan diriku yang kaku. Bakat sihirnya yang luar biasa selalu membuatku merasa iri. Karena itu, aku tidak pernah menyukai Julius.
Bukankah wajar?
Bahkan para pelayan sering terdengar berbisik di belakangku. Sejak kecil, aku sudah bosan dengan tatapan yang selalu membandingkan kami.
“Kak, kalau ada waktu, bisa tolong…?”
“Tidak, aku sibuk, jadi tidak bisa.”
Meskipun adikku tidak melakukan kesalahan apapun, aku tidak bisa melihatnya dengan pandangan baik, hanya rasa benci yang kulihat.
“Haha, kalau begitu tak apa.”
Aku membencinya, tapi dia menyukaiku. Karena itu, aku masih ingat dengan jelas hari saat pandanganku tentang adikku berubah. Hari ketika aku memutuskan untuk hidup demi adikku.
Saat aku kalah dalam duel melawan Julius dan mengurung diri di perpustakaan, adikku datang membawa buku sihir sebagai hadiah.
“Kak, ini buku sihir yang baru kudapat…”
Dalam hati, aku senang, tapi aku berteriak bahwa aku tidak membutuhkannya. Namun, adikku hanya tersenyum, menyerahkan buku itu, dan kemudian berlari keluar. Awalnya aku tidak berniat membacanya, tapi karena rasa penasaran, aku mulai membukanya dan langsung terpikat.
Beberapa hari kemudian, ketika aku keluar dari perpustakaan, berita mengejutkan menghampiriku.
“Katanya, tuan muda kedua kehilangan buku sihir baru yang sedang ditulis oleh Guru Grandel…”
Tersentak oleh kabar itu, aku segera mencari ayah dengan membawa buku yang diberikan adikku. Namun, situasi sudah semakin rumit.
Guru yang marah karena muridnya kehilangan buku sihir itu, menghancurkan lingkaran sihir Julius. Meskipun akhirnya aku berhasil menemukan buku itu dan situasinya sedikit mereda, semuanya sudah terlambat.
Julius mungkin mengira akan dihukum, tapi dia tidak pernah menduga bahwa lingkaran sihirnya, sumber kehidupan seorang penyihir, akan dihancurkan. Bodoh. Demi menghilangkan kemarahanku, dia melakukan tindakan sebodoh itu.
Itulah pertama kalinya aku melihat adikku menangis.
Sejak saat itu, Julius berubah. Dia mulai dekat dengan alkohol dan wanita, serta tak ragu melontarkan kata-kata kasar dan melakukan kekerasan. Meski begitu, dia tetap berpura-pura menjadi orang biasa dengan senyuman yang dipaksakan.
Anak kedua yang dulu selalu tersenyum, menghormati orang lain, dan menjaga sopan santun, telah tiada. Yang tersisa hanyalah seorang bajingan yang menyembunyikan hatinya yang busuk.
Adikku yang seperti itu. Namun, mengapa? Kenapa?
“Kenapa kau ada di sini?”
Tempat ini hanya bisa digunakan oleh mereka yang merupakan bagian dari keluarga Reinhardt. Siapa kau, kenapa, dan bagaimana bisa kau berada di sini?
“Seharusnya kau tidak ada di sini, bukan?”
Suara Julius membuat arena pelatihan yang bising seketika menjadi sunyi. Saat aku mendekat, wajahnya terlihat. Wajah yang mirip dengan adikku, namun isinya berbeda.
“Apakah itu kau, Kakak?”
Dia berlatih bersama para prajurit, sehingga tubuhnya berbau keringat. Langkah kakinya teratur, napasnya tenang, dan bahkan seorang seperti Allen, yang memiliki kekuatan sihir, dapat merasakan jejak mana yang tertinggal.
Sesaat Allen berpikir mungkin dia salah, mungkin itu sebenarnya adiknya, tapi ekspresinya langsung berubah dingin saat melihat kekuatan yang mengalir dari perut bawahnya. Adiknya yang berbakat dalam sihir, meskipun ceria, tidak pernah menyukai latihan fisik.
“Lalu kenapa? Pedang? Hah.”
“Biasanya kau benci bergerak, bukan? Kau harusnya tetap minum-minum di kamarmu, jadi kenapa keluar?”
“Haha… Kakak, aku sedang berusaha berubah.”
Dia tertawa tanpa arti, menggaruk kepalanya. Amarah Allen semakin memuncak.
Adiknya tak pernah tertawa sembarangan seperti itu. Sebagai seorang bangsawan, dia sangat menjaga harga diri dan perilakunya. Meskipun masih muda, dia pintar membedakan antara urusan pribadi dan publik. Dia bahkan tidak pernah mengganggu para pelayan jika tidak perlu dan selalu menggunakan ruang pelatihan khusus.
Bagaimana bisa orang ini tidak ketahuan?
Pandangan Allen menyapu para ksatria yang berada di sekeliling lapangan latihan. Mereka adalah orang-orang yang telah melindungi adiknya sejak sebelum dia berubah. Mereka, yang seharusnya tahu kebiasaannya, seharusnya bisa melihat ada yang tidak beres dari gerakan, langkah, dan cara bicara orang ini.
Para ksatria yang seharusnya mengenal adiknya dengan baik, kenapa mereka diam saja?
“Tch.”
Dia menggertakkan giginya. Sementara itu, pria itu, entah kenapa, tersenyum seakan semuanya lelucon dan mendekat.
“Tapi, Kakak, kenapa kau di sini…?”
“Cukup, melihatmu dengan tampang menjijikkan seperti ini sudah membuatku tidak ingin bicara lagi. Aku pergi dulu.”
Allen tidak menunggu jawaban. Dia tak ingin berbicara lebih lama dengan orang yang hanya memakai tubuh adiknya.
Waktu berlalu.
Orang itu membuktikan ucapannya bahwa dia berusaha berubah dengan banyak menunjukkan keberhasilan. Seolah-olah dia tahu masa depan, dia menemukan dungeon tersembunyi di wilayah itu, mencegah bencana yang akan terjadi, dan bahkan menyelamatkan seorang wanita bangsawan dalam bahaya.
Bukan hanya itu, dia menemukan bakat tersembunyi dan membangun hubungan di ibukota yang memperkuat reputasi wilayah Reinhardt. Desas-desus mengatakan bahwa dia sekarang berkeliling dunia untuk menghentikan bencana.
Ayah mereka bahkan mulai memujinya, seolah dia benar-benar putra kandungnya, mengakui dan memuji setiap prestasinya. Allen hanya bisa bertepuk tangan pada pertunjukan komedi yang menjijikkan itu.
Apakah orang lain tidak tahu?
Apakah mereka tidak menyadari betapa menjijikkannya dia sebenarnya?
Allen tahu. Dia memperhatikan setiap detail dari orang yang menyamar sebagai adiknya dan menyembunyikan kekejaman di balik senyumnya. Sementara orang itu terus meraih kejayaan, Allen hanya punya satu hal yang bisa dia lakukan. Satu-satunya hal yang dia kuasai.
Penelitian sihir.
Rumor menyebar bahwa putra sulung keluarga Reinhardt terobsesi dengan sihir terlarang, tetapi Allen tidak peduli. Hinaan seperti itu sudah tidak mempengaruhi perasaannya lagi.
“Banyak orang sudah melupakanmu.”
Sebagian besar orang di rumah ini sudah melupakan adik kandungnya yang sebenarnya, terbawa oleh prestasi palsu orang itu.
Ayah mereka? Dia sudah tidak peduli lagi apakah orang itu benar-benar anaknya. Obsesi buta pada kekuasaan telah mengubahnya menjadi mesin yang hanya peduli pada kemajuan wilayah.
Ibu mereka? Dia sudah lama tergoda oleh barang-barang mewah yang diberikan orang itu. Hidup sederhana yang dulunya dia jalani kini tergantikan oleh kemewahan, membuatnya sibuk dengan kehidupan sosial dan meninggalkan urusan rumah.
Para ksatria? Mereka tahu ada yang salah dengan adik mereka, tapi mereka mulai tunduk pada prestasi yang diraih oleh orang itu. Satu orang mengabaikannya, yang lain mengikuti.
Tapi Allen, sebagai kakak, tidak akan membiarkan adiknya hilang begitu saja. Jika dia tidak menyelamatkannya, siapa lagi yang akan melakukannya?
“Tunggu sebentar lagi.”
Allen membuka kembali buku sihir di depannya. Penelitian serius tentang pemanggilan, dimensi, pemisahan jiwa, kebangkitan jiwa, kontrak pemanggilan, teleportasi, dan banyak lagi.
Dia sudah melalui banyak penelitian, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Sebagian besar kasus serupa yang dia temukan berkaitan dengan orang yang dirasuki oleh iblis atau roh jahat. Dia bahkan diam-diam memanggil seorang pendeta untuk memastikan bahwa ini bukan masalah spiritual, tetapi hasilnya nihil.
Dia membutuhkan lebih banyak informasi. Lebih banyak data.
“Sial!”
Dia mengumpat. Bukan data yang kurang, melainkan bakatnya yang tidak memadai. Allen merasa sudah sangat dekat dengan menemukan solusinya, hanya butuh sedikit lagi.
Penelitiannya sudah melenceng jauh dari tujuann awal. Jika dia tidak bisa menemukan identitas asli orang itu, mungkin dia bisa memutuskan hubungan antara jiwa dan tubuhnya.
Penelitiannya hampir mencapai puncak.
Namun, “Kurang berbakat, katamu? Ha, hahaha.”
Selama bertahun-tahun, ia telah mengorbankan sebagian dari umurnya untuk mencapai hasil ini, hanya tinggal selangkah lagi mencapai keberhasilan, namun ia tetap tak mampu mencapainya. Kewenangan keluarga sebagian besar telah berpindah kepada adiknya, dan selama ia terkunci di ruang penelitian, posisi pewarisnya telah dicabut sejak lama. Penelitian ini adalah hasil dari semua uang yang ia kumpulkan dan sisa dana rahasianya. Ia bahkan menggunakan nama adiknya dengan muka tebal untuk meminjam uang guna mendanai penelitian ini.
“Jika ini gagal, kalau ini gagal….”
Takkan ada lagi orang yang mengingat adiknya. Takkan ada lagi yang bisa mencegah kejahatan yang dilakukan oleh tubuh Julius. Tidak ada cara untuk menghentikannya, dan membiarkannya begitu saja juga bukan pilihan.
Dalam kegelisahannya, ia melihat sebuah buku bersampul merah di sekitarnya. Itu adalah buku sihir kontrak iblis yang ia temukan secara kebetulan saat mempelajari sihir kontrak. Walaupun menginjak ranah ilmu hitam, ini adalah keraguannya yang terakhir dan belum pernah ia buka sebelumnya.
“Kalau itu… kalau dengan iblis….”
Bagaimanapun juga, iblis adalah makhluk yang bekerja dengan prinsip pertukaran yang setara. Jika tidak memiliki ambisi besar, jika ia hanya menginginkan secuil keajaiban… hanya sedikit saja…
“Seharusnya tak masalah.”
Ucapan yang tak sengaja keluar membuat napasnya tercekat, tapi ia tak bisa lagi mengingkari bahwa hatinya sudah terguncang.
Di cermin, ia melihat pria paruh baya dengan keriput dan rambut putih. Meskipun masih berusia dua puluhan, tubuhnya yang tampak menua adalah akibat dari pengorbanannya demi penelitian. Hari ini, tubuhnya yang semakin tua tampak lebih buruk dari biasanya.
Ia menggertakkan giginya.
Ya.
“Aku yang telah menghancurkan hidupmu, jadi sekarang aku harus menyelamatkanmu, bukankah begitu?”
Keburukan dibayar dengan keburukan. Walaupun pada akhirnya yang menunggu adalah kematian.
Dengan tertawa getir di ruang sempit tanpa siapa pun, ia mengambil buku bersampul merah itu. Sekarang, ia sudah tak peduli lagi dengan apapun. Betul, tak peduli sama sekali.
Allen sudah berkali-kali menggigit bibirnya hingga berdarah, dan kini ia meraung dengan putus asa.
“Iblis! Ini sudah cukup, kan? Aku sudah mempersembahkan banyak korban!”
Ia pikir sedikit pengorbanan sudah cukup. Namun, apakah harga pengetahuan yang ia minta terlalu mahal, ataukah iblis sedang bermain-main dengannya? Ia terpaksa mempersembahkan lebih dari dua kali lipat jumlah korban yang semula ia perkirakan.
Ia mendengar bahwa si bajingan sedang menyelidiki kasus di kastil tuan tanah. Ketika kecemasan menekan dadanya, iblis yang tampak puas menikmati potongan daging yang sudah berubah merah darah akhirnya berbicara.
“Baiklah… Ini sudah cukup. Pemuja kontrak, aku akan membayar harga dari kontrak yang kau inginkan…”
Ketika lingkaran sihir yang dilukis dengan darah bersinar merah, tanda bahwa kontrak hampir diselesaikan.
Bang!
“Sudah kuduga… Ternyata benar, kakak.”
Bajingan itu mendobrak pintu dan masuk, matanya memandang sekeliling ruangan seakan ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Di ruangan yang berantakan dengan lantai penuh darah, tengkorak yang menumpuk di altar, dan potongan-potongan daging misterius yang berserakan di dalam lingkaran sihir pentagram, aku berdiri, tidak lebih dari seorang pemuja kontrak iblis.
Seolah tahu segalanya, bajingan itu mulai berbicara.
“…Aku tahu kakak memakai namaku untuk berhutang ke para pedagang.”
Di belakangnya, puluhan ksatria suci, pendeta, dan ksatria keluarga memandang dengan ekspresi terkejut.
“Tapi karena kau keluargaku, kubiarkan hal itu berlalu.”
Kata-katanya membuat amarahku tak tertahan lagi.
“Kalau aku tahu kau akan memanfaatkannya untuk ini, aku pasti…”
“Keluarga? Kau bilang keluarga? Bagaimana dengan perbuatan kotormu? Apa yang terjadi dengan adikku yang baik hati? Kau pikir aku tidak tahu?”
“…Apa!”
Bajingan itu tampak terkejut, tak menyangka akan mendengar kata-kata seperti ini, dan aku tertawa.
“Kau pikir aktingmu sempurna? Kau pikir bisa menipu ayah, ibu? Aku juga? Para ksatria?”
Saat bajingan itu mundur, aku berteriak dengan lantang.
“Iblis! Laksanakan kontraknya!”
Aku tahu sejak ia mendobrak pintu bahwa semuanya sudah dipersiapkan. Iblis hanya menunggu hingga ia mati, supaya kontraknya tak perlu dilaksanakan. Bajingan itu, dan semua orang di sekitarnya.
“Baik, aku akan melaksanakan kontraknya.”
Iblis menekan ubun-ubunku dengan tangan yang dipenuhi darah. Setelah itu, sebuah ilham, yang begitu kuinginkan dengan sepenuh hati, perlahan menyatu dalam pikiranku. Kepalaku tiba-tiba menjadi dingin, dan kekuatan sihir mulai mengalir.
Jaringan kekuatan sihir yang rumit dan metafisik mulai terbentuk, menciptakan lingkaran cahaya tembus pandang.
“Tangkap pemuja iblis itu!”
Terkejut oleh kata-katanya, orang-orang mulai bergerak, namun sudah terlambat.
Atau tidak, “Tidak terlalu terlambat.”
Srrt-
Aku merasakan dinginnya pedang yang menusuk jantungku. Bajingan itu, entah bagaimana, sudah berdiri tepat di depanku.
Baiklah, jadi kau memang memiliki bakat seperti adikku. Jika kau memiliki tubuh adikku, setidaknya ini yang harus kau lakukan. Namun, semua ini…
“…Sudah kuduga.”
Darah mengalir deras dari jantungku, dan wajahku menjadi pucat dalam sekejap, namun senyum lebar tersungging di bibirku.
“Seorang kakak harus tahu betapa berbakat adiknya.”
Aku mengorbankan seluruh sisa hidupku ke dalam mantra.
“Apa?”
Ia terlambat menyadari, namun darah yang sudah keluar membentuk bagian dari mantra yang membentuk penghalang di sekitar lingkaran sihir pentagram.
Berapa detik bisa kupengaruhi? Tetapi, hanya dengan itu.
“Jadi….”
Sudah cukup.
“Selamat tinggal.”
“Sialan kau!”
Aku menutup mataku.
“Orang asing.”
Semua usahaku terlintas di pikiranku, kenangan indah muncul, dan masa lalu yang telah berlalu kembali teringat.
Dan
“Yang sudah mati,”
Wajah adikku yang selalu tersenyum ceria, penuh keisengan, dan sangat berbakat.
“─Demi adikku.”
─Demi Julius Reinhardt.
Pedang cahaya jatuh sesuai dengan perintahku.
“…Dasar bajingan!”
Pedang cahaya yang tembus pandang membelahnya menjadi dua. Lalu, terdengar suara sesuatu yang pecah, dan gumpalan biru keunguan keluar dari tubuh adikku.
Pada saat yang sama, sesuatu masuk ke dalam tubuhku.
Aku menatap tubuh bajingan itu yang bergetar, lalu dengan senyum lega, aku menutup mataku.
『…Bunuh dia.』
Sepertinya, samar-samar, aku mendengar sesuatu berbisik di telingaku.
Dan saat aku membuka mata lagi,
“Kakak? Kenapa kau melamun seperti itu?”
“…Kau.”
Bajingan yang telah merebut tubuh adikku tertawa sinis.
༺══════~~~~~~~~~~✦❁❁❁❁✦~~~~~~~~~~═══════༻