Rantai Naga Ori -Semangat di dalam “Hati” - Chapter 3
“Kesedihan Dewi Pemabuk dan Temannya”
====================
“Ah, ah, ah! Guru jahat itu menyebalkan!”
“Anri, tolong tenang sedikit.”
Sambil melihat sahabatku yang mabuk berat di sebelah bar, aku memesan air sebagai pencegahan. Bartender berjambang yang rapi segera menuangkan air ke dalam gelas.
Ini adalah bar langganan di distrik pemerintahan. Interiornya elegan dengan banyak penggunaan kayu mengkilap.
Setelah selesai bekerja, aku mengajak Anri ke sini, tapi sahabatku langsung memesan minuman keras dan meneguknya satu demi satu.
Anri memang sering kalut belakangan ini sebagai asisten guru, tapi hari ini dia lebih kesal dari biasanya.
Katanya, Guru Caskel terus-menerus mengkritik seorang murid dengan sinis, dan bahkan mengajaknya makan dengan nada merendahkan.
“Membuang-buang waktu untuk murid sampah itu sia-sia saja! Masih pantas jadi guru, hah?!”
Sambil mencaci-maki guru yang mengabaikan akan tugasnya, Anri menenggak minuman keras. Aku hanya bisa menghela napas.
Caskel Matieert adalah wali kelas 10, yang berarti dia adalah atasan langsung Anri. Sebagai bangsawan, dia sangat sombong dan cuek pada murid kelas 10 yang tidak dianggap.
“Lalu dia bilang, ‘Kalau pulang ke kampung?… Aku ini bangsawan Kekaisaran!’ Cih, pembual sekali, mengajak makan saja tak bisa!”
“Aduh…”
Anri memang biasanya ceria dan sabar, tapi dia juga punya batas kesabarannya. Melihat kemarahannya yang meledak-ledak begini, Caskel pasti sangat menjengkelkan.
Memang, sahabatku ini cantik. Penampilannya yang feminin dan aura keibuan membuatnya sangat menarik, tidak heran banyak lelaki yang mengejarnya dulu. Dia pasti incaran yang bagus.
Tapi, tidak ada pria yang bisa mendekatinya sekarang. Dia sibuk memikirkan murid yang dipikirkannya.
“Nah, bagaimana kabar murid yang kau khawatirkan itu?”
Sambil berbicara, aku menukar minuman keras di depan Anri dengan air. Sepertinya sudah waktunya dia berhenti minum.
“…Sama sekali tak baik. Dia terus-terusan sendirian dan terluka. Dia masih sering masuk ke Hutan Spashium seorang diri, dan tak mau ikut kelompok meski kuperintahkan.”
Anri meneguk air yang kuganti, lalu tiba-tiba saja dia menjatuhkan kepalanya ke meja bar.
Sahabatku yang tadi menggebu-gebu marah, kini terlihat sangat tertekan.
Ah, harusnya aku mengalihkan pembicaraan saja, bukannya membuat Anri semakin murung.
“Bagaimana ya…? Aha, aku saja yang terus menemaninya bagaimana?!”
“…Hah?”
Aku tak mengerti apa yang dikatakan Anri. Pembicaraannya tak nyambung.
Beberapa detik kemudian, aku baru ingat situasi murid itu. Dia memang urutan paling di kelas 10 dan sering diperlakukan buruk.
“Ide bagus! Kalau begitu, Nozomu juga tak akan di bully dan di hina, dan aku bisa membantu meningkatkan kemampuannya!”
“Tunggu dulu…”
Aku baru sadar kalau aku terlambat menghentikan Anri yang tiba-tiba melantur. Meski biasanya santai, kalau sudah mabuk, pikirannya sering melantur ke arah yang tidak masuk akal.
“Tinggal bersama, makan bersama, berlatih bersama… Ya, pasti bisa!”
“Tidak mungkin begitu. Ada kalanya harus terpisah, dan ada hal-hal yang tak bisa kau awasi.”
Aku mencoba meluruskan, tapi mungkin tidak ada gunanya. Anri sudah terlanjur asyik membayangkan rencana ngawurnya.
Meski Anri cukup populer di kalangan murid, dia masih guru baru. Kalau dia terlalu memihak satu murid, pasti akan menimbulkan kecemburuan.
Lagi pula, Nozomu kan tinggal di asrama. Mustahil Anri bisa menjaganya sepanjang waktu.
“Kalau begitu, kita bisa tinggal bersama saja! Aku punya kamar kosong, kok…”
“Hei, hei, itu justru masalah besar!”
Gawat, gadis polos ini benar-benar mengabaikan posisinya dan realita, lalu malah memikirkan rencana untuk terus bersama Nozomu.
Terpaksa aku harus membujuknya dari sudut pandang lain.
“Lagipula, kurasa Nozomu sendiri belum terlalu membuka diri padamu.”
“Uuh…”
Memang, murid itu tak mau dekat dengan siapapun di sekolah. Aku sudah beberapa kali mencoba konseling, tapi tak ada kemajuan.
Jujur, kupikir dia akan lebih baik jika meninggalkan akademi ini daripada terus menderita di sini.
“Kalau kau terlalu mendesaknya, justru bisa membuatnya semakin menjauh. Harus hati-hati, lho.”
“Huwaaa, Norn jahaaat!”
Tiba-tiba Anri menangis dan melompat dari kursinya. Dengan kasar, dia mendobrak pintu keluar hingga engselnya lepas.
Rupanya dia masih memperhatikan murid itu, tapi khawatir mengatakannya secara langsung. Wajar kalau dia meledak.
Pintu yang terlepas itu jatuh ke jalan di luar. Suasana di dalam bar pun langsung hening. Wajar saja, penampilan Anri yang feminim tak cocok dengan kekuatan yang dikeluarkannya.
Selain guru di Akademi Solminati, Anri juga mahir dalam bela diri dan senjata. Tapi sekarang dia berlari bak kuda liar. Harus cepat kujemput sebelum bikin kekacauan.
“Maafkan saya, Pak. Biaya perbaikannya…”
“Tak apa-apa, penahannya memang sudah agak longgar. Nanti juga akan segera kuperbaiki. Lebih baik Anda kejar dia dulu.”
Hanya bartender itu yang tetap tenang di tengah keheningan. Betapa baik hatinya. Aku jadi sedikit tertarik padanya.
“Terima kasih… Anri, tunggu! Jangan memakai martial arts dan berlari di jalan umum, itu merepotkan tahu?!”
Terdengar suara Anri yang menghancurkan aspal di kejauhan. Sepertinya dia berlari ke sana. Aku memang bisa menggunakan sihir, tapi penguatan fisikku tidak terlalu hebat.
Keesokan harinya, kabar dua wanita yang mengamuk di distrik pemerintahan menyebar di akademi. Aku dan Anri dipanggil ke ruang guru dan dimarahi.
Oh ya, si bartender tadi ternyata sudah beristri. Istrinya memang tak secantik Anri, tapi auranya juga hangat. Cih, sayang sekali.