Peperangan dan Ambisi - 2. Bilah-Bilah Cakar Besi (2)
─────────────༺⚔༻─────────────
Eran berdiri di pertigaan jalan, banyak orang sudah lalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing, bisa dibilang ini masih terhitung cukup pagi untuk beraktivitas.
Dengan menyandarkan tubuhnya di tembok besar ia melipatkan kedua tangan didadanya, matanya masih fokus memandang bangunan cukup besar yang berdiri lurus didepannya, terdapat plang nama bertuliskan ‘Golden Guild Alku.’ dan sebuah ukiran dua pedang diatasnya.
Orang-orang yang melihat sekilas pasti akan tau bila itu ada sebuah guild, terlebih bagi para mercenary yang membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Eran memasang tudung jubahnya lalu mendekat dan mendorong membuka pintu kayu yang berat dan melangkah ke interior yang ramai. Suara dentingan armor, percakapan panas, dan tawa memenuhi udara. Tentara bayaran dari segala bentuk dan ukuran, mengenakan berbagai baju besi dan pakaian, berbaur di dalam aula guild.
Terdapat banyak meja dan kursi di pinggir kiri dan kanan sengaja disusun tak beraturan.
Eran melangkah maju tak menghiraukan bahkan tak menoleh untuk sekedar melihat suasana didalam guild itu. Ia mendekat kearah meja besar yang Eran duga itu adalah tempat mendaftar. Ia dapat melihat pria mungkin seumuran 30 tahun lebih berdiri disana.
“Apa yang kau inginkan?” ujar lelaki itu dengan nada jengah.
Eran mengambil sesuatu di kantung celananya dan melemparkan sebuah kalung dimeja itu, lalu penjaga itu mengambil dan memeriksanya.
“Aku ingin misi dari kerajaan,” ujar Eran. Penjaga itu masih memeriksa kalung itu belum menjawab, penjaga itu meneliti kalung penanda mercenary. Eran dapat mendengar orang-orang mulai berbisik saat ia mengatakan keinginannya.
“Aku bingung terhadap pihak kerajaan, kenapa misi ini harus di urus juga pada guild ini, bahkan mereka bisa saja langsung menunjuk dan memberi perintah pada siapa pun,” jelas penjaga itu. sambil melempar kalung itu pelan ke arah Eran, lau melanjutkan, “misi ini sudah diambil oleh beberapa Band, termasuk Band of de Sun, entah sudah berapa mercenary lonewolf sepertimu yang mendaftar pada misi ini. Tunjukan identitasmu.”
Eran pun melempar identitasnya dan petugas itu mulai mencatat.
“Kau sudah terdaftar, kau tau bukan bayaran disesuaikan dengan tingkatan pencapaian,” jelas petugas itu.
“Aku akan mengambil yang paling banyak,” ujar Eran, petugas itu mendengus mendengar bualan Eran.
“Aku yakin Band of the Sun akan mengambil hadiah paling banyak, kekuatan mereka terlalu mengerikan untuk sekumpulan mercenary,” ujar petugas itu.
“Itu omong kosong yang selalu kudengar di setiap tempat yang kukunjungi, selalu membicarakan mereka,” tanggap Eran.
“Kau berani sekali anak muda, apa kau tak tau Band itu?” tanya penjaga sambil meletakan pen-nya.
“Siapa yang tak mengenal mereka, bahkan di seluruh benua pun tau Band itu adalah kumpulan anak manja kerajaan.”
“Tutup mulutmu bocah!!” ujar penjaga itu sambil memberi isyarat untuk diam. Tak lama terlihat seorang laki-laki besar menghampiri Eran lalu meremas baju Eran.
“Ahh..sepertinya terlambat,” ujar penjaga itu.
“Apa yang kau bilang tadi, kau berani menghina Band kami! Coba katakan sekali lagi!” bentak lelaki berjanggut berbadan besar itu tepat diwajah Eran.
“Yang mana? Kalian kelompok anak-anak manja? Yang itu?”
Gorstag semakin mengeratkan cengkramannya, membuat wajahnya semakin dekat dengan Eran.
“Kau tak tau tentang apa-apa, kami telah membuktikan diri kami di banyak medan perang! Jadi jaga lidahmu!”
“Tetap saja tak mengubah fakta jika kalian anak manja yang terlahir dari kalangan bangsawan.”
Sudah tak bisa menahan emosinya, Gorstag menghempaskan cengkramannya lalu tinjunya melayang.
“Gorstag jangan!!” teriak perempuan berambut abu-abu, namun sudah terlambat.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Eran, langkahnya mundur sedikit.
“Kuharap kau pergi dari sini sebelum amarahku semakin tak terkontrol!” ujar Gorstag mengancam.
Dengan malas Eran menghembuskan nafasnya, seperkian detik Eran tak terlihat sudah berada di depan Gorstag. Belati yang tajam sudah terlalu dekat dengan lehernya. Wajahnya penuh dengan tekanan dan amarah. Semua orang yang ada di guild itu terdiam tak bisa mengikuti pergerakan Eran.
“Dii..dia gila,” ujar penjaga tua tadi.
Lelaki yang mencengkram Eran tadi hanya bisa melongo kebingungan, bagaimana ia bisa tak sadar dan tak bisa merasakan pergerakan Eran tadi.
“Aku tau sebagian dari kalian adalah anggota Band of de Sun, jika kalian ingin membunuhku, tusuk saja saat misi nanti,” ujar Eran tersenyum mengejek, lalu ia menyimpan dua belatinya lagi dan melangkah pergi meninggalkan bangunan itu.
Sepeninggalan Eran tempat itu menjadi semakin ramai oleh para pendaftar.
“Seperti biasa, kau mudah terpancing Gorstag, bukankah sudah kubilang tadi jika dia kuat,” ujar salah lelaki pendek yang duduk tak jauh darinya.
“Diam kau Kain! Kita dihina seperti itu wajar bila aku marah,” bela Gorstag mengerutu sambil membanting bokongnya dikursi.
“Bahkan bila ada Theo disini, dia tidak akan marah,” ujar salah satu laki-laki lagi berkulit coklat.
“Kau benar Uldor, Dia akan tertawa terbahak-bahak,” timpal Kain sambil tertawa.
Gorstag menatap teman-temannya dengan pandangan kesal, merasa diolok-olok tak membuatnya senang. Ia merasa telah dihina dan ingin mempertahankan harga dirinya sebagai seorang anggota band. Namun, lawakan dari Kain dan Uldor semakin memperbesar rasa frustrasinya.
“Kalian benar-benar!!” Gorstag sangat kesal, tetapi teman-temannya semakin menjahilinya.
“Teriakanmu terdengar sampai atas,” tiba-tiba terlihat lelaki dengan rambut pirang sebahu turun dari lantai dua.
“Tadi ada lelaki menghina band kita, itu tak bisa dimaafkan,” ungkap Gorstag marah.
“Aku mendengarnya, hahaha!” Theo tertawa dengan riang, sementara anggota band yang lain ikut tergelak mengikuti.
Gorstag hanya bisa memasang wajah kecut, merasa bahwa mereka tidak memahami betapa seriusnya insiden tersebut baginya. Ia ingin menunjukkan bahwa sebagai anggota band, mereka harus melindungi martabat dan reputasi mereka. Tetapi, teman-temannya hanya terlihat santai dan menganggapnya sebagai lelucon semata.
Theo menghentikan tawanya dan melangkah mendekati Gorstag. Ia menatapnya dengan penuh pengertian.
“Sudahlah Gorstag, aku mengerti perasaanmu. Tapi ingatlah, kita adalah sekelompok anak muda yang mencari kegembiraan dan petualangan. Kita tidak boleh terlalu serius dengan segala hal.”
Gorstag terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Theo.
“Aku mungkin harus menenangkan diri dan melihat segalanya dari sudut pandang yang lebih luas,” kata Gorstag akhirnya dengan suara yang lebih tenang.
Theo menganggukkan kepala dan meletakkan tangan di bahu Gorstag, “Itulah yang kukatakan. Kita adalah kelompok yang kuat, dan tidak ada yang dapat merusak semangat kita. Mari kita lanjutkan minum-minum dan bersenang-senang, seperti yang selalu kita lakukan.”
Perlahan, senyum kembali terukir di wajah Gorstag. Ia sadar, tak perlu terlalu membesar-besarkan masalah kecil ini.
Mereka melanjutkan acara minum-minum mereka. Gorstag menyadari bahwa pada akhirnya, kebersamaan dan kehangatan persahabatan mereka lebih berharga daripada perdebatan sepele yang hanya akan memecah belah mereka.
“Lalu bagaimana, apa kau akan menerimanya ikut dalam misi kita?” tanya Kain disela-sela kebisingan mereka.
“Aku bukan orang yang memegang keputusan disini, dan aku sedari tadi memperhatikannya dari atas. Lagipula petugas pendaftaran sudah menerimanya,” jawab Theo lalu ia menegak segelas ale dan melanjutkan, “Aku juga mendengar desas desus jika ada seorang mercenary dengan tingkat penyelesaian yang tinggi, dan dia biasa melakukannya sendirian.”
Para anggota band saling bertukar pandang dengan penasaran, tidak yakin apakah Theo serius atau bercanda.
“Apa !! Tidak bisa dipercaya,” ujar Kain terkejut.
“Theo, apa kamu serius? Dia akan menganggu kita!” ucap Rekan satu band bersamaan.
Theo tertawa kecil dan menyenggol teman satu bandnya.
“Tapi bagaimana kau bisa tau kalau ia adalah orang itu ? Bisa saja bukan,” ujar perempuan berambut panjang bewarna abu-abu yang muncul bersama Theo.
“Aku tadi sempat bertanya pada pak tua penjaga, dan benar saja orang itu memanglah Eran,” Jawab Theo antusias.
Perempuan berambut abu-abu itu hanya bisa menghembuskan nafasnya.
“Taneaya, Kumohon bujuklah bajingan ini. Aku tau maksud dari perkataanya itu, lihat saja senyumnya seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan,” pinta Gorstag memohon pada Taneaya. Perempuan itu hanya terlihat pasrah. Namun dia tak menyerah, matanya mencari seseorang yang sedari tadi duduk dan terlihat menyimak disebelah Uldor.
“Catallina kau lah satu-satunya harapan kami sekarang,” sekarang berganti Taneaya yang memohon.
“Aih, kenapa harus aku,” protes perempuan dengan rambut sebahu.
“Gunakan kekuasaanmu untuk kali ini,” kata Gorstag memaksa.
Theo terlihat tertawa menikmati pertengkaran kecil yang selalu terjadi hampir di setiap harinya.
“Ah baiklah..baiklah..Kalian ini, tak bisakah sehari saja membiarkanku tenang,” gerutu Catallina sambil berdiri mengarahkan pandangannya ke Theo.
Belum sempat mengatakan sesuatu, Theo sudah menyambar.
“Aku tak akan terpengaruh untuk kali ini Catallina.”
“Arrgghh..setidaknya biarkan aku mengucapkan sesuatu terlebih dulu Theo.”
“Ahahaha baiklah..baiklah maafkan aku.”
Catallina terlihat kesal melihat tingkah pemimpinnya.
“Setidaknya diskusikanlah terlebih dahulu, jangan membuat keputusan secara sepihak. Kami tau kau akan merekrutnya untuk masuk di band kita kan,” ujar Catallina mencari jalan tengah.
“Arghh kalian memang tak bisa dibohongi,” keluh Theo sambil mengacak-acak rambutnya.
“Hentikan drama mu itu, kau membuat kami mual.”
Theo tertawa melihat respon rekannya.
“Baiklah..baiklah..Bukankah sedari tadi kita sedang berdiskusi,” jawab Theo sambil menahan tawa.
“Lupakan,” Catallina menyerah dan kembali keposisi awal duduknya.
Terlihat anggota lain lemas.
“Sudahlah, sudahi kekesalan kalian. Wajar saja dia mengucapkan kata-kata itu tadi, mungkin karena dia terbiasa dengan kesendiriannya.”
Ujar Theo mencoba menjelaskan perdebatan kecil ini, lalu dia meminum alle-nya dan melanjutkan.
“Karena kesendiriannya itulah aku mencoba untuk merekrutnya.”
Setelah perkataan Theo itu, suasana menjadi Hening untuk sejenak. Untuk beberapa saat merasakan sesuatu yang menakutkan bagi mereka, yaitu kesendirian.
Seakan mengerti, lalu sebuah tepukan tangan kecil dari Theo menyadarkan rekan-rekannya.
“Sudah tak usah diambil pusing, bukankah menambahkan orang yang kuat akan membuat Band kita menjadi semakin solid.”
“Terserahmu saja,” ujar Kain, Theo hanya tersenyum.
“Aku ingin Eran berada di band kita.”
─────────────༺⚔༻─────────────