Peperangan dan Ambisi - 1. Bilah-Bilah Cakar Besi (1)
─────────────༺⚔༻─────────────
Eran menggosok-gosok matanya yang masih terasa kantuk, terbangun dari tidurnya yang pendek di kereta kuda usang tersebut. Eran melihat sekeliling dan melihat persimpangan jalan yang terbentang di depannya.
“Sudah sampai anak muda!” teriak lelaki tua, tangannya fokus memainkan kekang untuk menenangkan kudanya. Kereta kuda pun berhenti, tidak bisa disebut kereta kuda bila dilihat dari bentuk yang sudah terlihat usang.
“Turunlah, aku hanya bisa mengantarmu sampai sini saja,” ucap lelaki tua itu.
Eran melangkah turun dari kereta kuda usang itu, menghirup udara dingin malam itu. Dia merasa sedikit kaku setelah tidur di kereta yang sempit, namun kesadaran telah kembali sepenuhnya.
Menatap sekelilingnya, dia menyadari berada di persimpangan jalan yang tidak begitu ramai. Di kejauhan, Eran melihat pemandangan pedesaan yang indah, ditandai dengan perbukitan hijau yang menghijau di bawah sinar matahari pagi.
“Sudah sampai di tujuan, ya?” ucap Eran kepada pengemudi kereta itu.
Pengemudi itu mengangguk, “Ya, ini adalah tempat yang kau minta. Tidak ada jalan lain dari sini.”
Eran menyampaikan terima kasih kepada pengemudi tersebut, lalu mengeluarkan beberapa koin dari sakunya untuk membayar jasanya. Meski kereta itu tua dan usang, tapi Eran merasa berterima kasih karena kereta itu membawanya dengan selamat sampai ke tujuan.
Pengemudi itu menolak uang yang diberikan Eran. “Simpan saja, aku sedang terburu-buru, anggap saja kau beruntung.”
Lalu tanpa menunggu lama kereta kuda usang itupun melanjutkan perjalanan meninggalkannya sendirian.
Ia melangkahkan kakinya, matanya dapat melihat tak jauh dari sana terdapat desa. Eran mengenakan tudung dan jubah hitamnya, tak banyak yang membebani badannya, hanya tas kecil yang melekat di pinggangnya.
Ia memilih tepi jalan untuk dilewati menghindari kubangan air dan tanah yang becek. Cuaca sedang tak bersahabat, malam menjadi semakin gelap karenanya, ia sangat membenci hujan. Saat memasuki desa ia melihat papan tua berlumut bertuliskan ‘Alku’. Itu adalah desa ramai yang dikenal jauh dan luas karena reputasinya sebagai salah satu surganya tentara bayaran yang mencari petualangan, dan koin.
Suasana desa terlihat ramai mereka tak memperdulikan hujan yang sedang turun. Desa ini adalah desa paling padat di kerajaan Berillan, itu karena lokasinya yang sangat dekat dengan perbatasan menjadikan desa ini juga sering dijadikan untuk persinggahan bagi para pendatang dan transaksi bagi para saudagar.
Saat Eran memasuki lebih dalam area desa, gemuruh para pedagang yang menjajakan dagangannya dan aroma berbagai masakan yang melayang di udara menyerang indranya.
Eran melirik disetiap tembok terdapat bendera kuning berlambang dua coin, sudah sangat jelas bila desa Alku adalah kekuasaan Kerajaan Berillan yang dikuasai oleh Heirs of Golden, di kenal sebagai klan yang banyak menciptakan pemburu dan pemanah mematikan, selain itu mereka juga tercatat sebagai penyokong dana terbesar di Kekaisaran tak heran bila Heirs mereka adalah yang terkaya di benua Anthares.
Eran, mencari jeda sesaat dari beratnya tujuannya, berjalan melalui jalan-jalan ramai di Desa Alku ke sebuah tavern yang terletak di antara tempat-tempat yang ramai. Udara kental dengan aroma makanan lezat dan tawa riang para pengunjung mukai terasa.
Eran sudah berada didepan bangunan tua yang terlihat sedikit kumuh diatas pintunya terukir tulisan ‘Freya Tavern’, lalu ia memasukinya.
Duduk di meja sudut, Eran ingin memesan segelas ale dan sepotong pai apel, mendambakan kenyamanan yang mereka tawarkan.
Namun kenyataan dan khayalannya tak terlihat sejalan, nyatanya suasana didalam sangat sesak dan berisik. Saat ia berada disana ia memperhatikan sekitar ia menghembuskan nafasnya jengah, ia sangat benci berada di keramaian seperti ini, tak lama pelayan menghampirinya.
“Apa yang ingin kau makan bocah bertudung?” tanya pelayan tua itu dengan nada jengah.
“Berikan aku sepiring pie dan segelas ale.”
Lalu pelayan itu pergi. Tatapan Eran mengembara, tidak tertarik pada percakapan riang dan tawa yang memenuhi kedai. Dia puas dengan kesendiriannya, otaknya sama sekali tidak menemukan sedikit minat untuk terlibat dengan orang asing.
Namun, di tengah pesta pora, seorang Bard terlihat menarik perhatian Eran, dia terlihat memetik Lute ditangannya bernyanyi dan menari gembira diatas meja panjang. Dibawahnya orang-orang melingkarinya dan terbawa dalam pertunjukan itu. Suara menenun melodinya memenuhu seluruh kedai, menganyam cerita tentang keberanian dan kehilangan cinta dengan suara yang penuh emosi, memikat para pengunjung.
“Pie dan alle,” ujar pelayan tua tadi sambil menyodorkannya pada Eran, lalu pergi lagi setelah menerima bayaran. Eran lebih memilih meneguk alle, minuman keras ini sangat cocok di cuaca dingin seperti ini.
“Tidak ada yang lebih nikmat selain pie setelah meneguk alle.”
Rasa apel manis dan lembut menyatu dengan kulit pie yang renyah dan gurih di mulutnya. Ia menikmati hidangan itu dengan perasaan puas, seolah-olah segala masalah yang menghantuinya sedari tadi menghilang seketika.
Kedai itu semakin ramai, dan Eran merasa lebih nyaman duduk di meja sudut yang menyediakan sedikit privasi.
Saat nada terakhir terdengar di seluruh kedai, Bard yang menjadi pusat perhatuan itu berjalan menuju meja Eran, dengan sengaja mencarinya. Tatapan sedingin es Eran bertemu dengan senyum hangat sang penyair, benturan yang kontras terjadi sekejap itu.
“Menurut desas-desus yang beredar ale didesa ini adalah yang terbaik, mereka membuatnya dengan fermentasi berry matang dan sedikit tambahan garam. Intensitas alkoholnya tinggi tapi sangat nikmat ditenggorokan.”
Eran melihat sumber suara yang ada didepannya, terlihat Bard yang bernyanyi tadi sudah duduk satu meja dengannya. Eran memilih diam tak menanggapi dan menikmati pie nya.
Omong kosong Bard itu biasanya akan berhasil jika dihadapakan pada orang normal, kali ini ia gagal memikat perhatian Eran. Sikap dinginnya tetap tidak berubah, tidak terpengaruh oleh upaya penyair untuk menariknya ke dalam percakapan.
Lalu bard itu melanjutkan.
“Dan itu adalah pie yang dibuat dari apple merah yang terlalu matang, alih-alih membuangnya, mereka lebih memilih mengolahnya dan menjualnya lagi.”
“Apa yang kau inginkan, bard? Aku hanya punya sedikit kesabaran untuk dongeng dan obrolan kosong,” potong Eran jengah.
“Halbarad,” jelas Bard memperkenalkan diri dengan paksa lalu melanjutkan, “aku baru pertama kali melihatmu disini tuan bertudung misterius, kemana tujuanmu ?”
“Jika kau melihat tampilanku kau seharusnya bisa menebak, bahkan anak kecil pun tau apa tujuanku.”
“Wah sudah kuduga, kabarnya tersebar sangat cepat dari yang kuduga. Bahkan Band of the Sun juga sudah ada di desa ini dari tiga hari yang lalu,” Eran terkejut mendengar penuturan dari Halbarad.
“Oh, tak heran mereka menjadi yang teratas,” ujar Eran mencoba tenang.
Band of the Sun adalah sekumpulan pasukan mercenary yang berada di puncak tertinggi, apapun misi yang mereka emban pasti akan terselesaikan dengan sempurna. Tidak ada yang meragukan kekuatan mereka.
“Jadi, dimana teman-temanmu?” tanya Halbarad sambil meneguk alle-nya.
“Aku berdiri sendiri, tak bergabung dimanapun,” Eran merenung sejenak sebelum melanjutkan, “berdiri sendiri bukanlah hal yang buruk. Aku lebih nyaman dengan keheningan dan kesendirian. Tak perlu banyak orang di sekitar untuk merasa nyaman.”
“Apa kau tidak menginginkan teman perjalanan?” goda Bard.
“Melakukan itu tak mudah. Aku tidak terlalu tertarik untuk bersosialisasi dengan orang asing yang akhirnya hanya akan datang dan pergi,” jelas Eran.
“Lonewolf, sangat cocok dengan penampilanmu,” ujar Halbarad dengan senyum hangat dan gaya.
Sedari tadi saat dia mengajak Eran mengobrol terasa seperti omong kosong yang basi. Menjadi jelas bahwa Halbarad sengaja mencari Eran.
Halbarad mencoba mencari topik pembicaraan yang lebih cocok. “Baiklah, maaf jika aku terlalu memaksa. Bagaimana dengan petualanganmu selama ini? Apakah ada cerita menarik yang ingin kau bagikan?”
Eran mengangkat sebelah alisnya. “Petualangan adalah bagian dari hidupku. Aku telah mengunjungi banyak tempat dan bertemu dengan berbagai macam orang. Tapi, itu bukan sesuatu yang ingin aku pamerkan atau ceritakan.”
“Kau benar, petualangan adalah pengalaman yang sangat personal,” kata Halbarad dengan mengerti. Tak kenal menyerah penyair itu terus berusaha mencari topik.
“Jadi, mengapa kau tertarik pada pie dan ale ini?” tanya Halbarad sekali lagi
Eran menyipitkan matanya. “Pie dan ale adalah kesenangan sederhana dalam hidup. Mereka seakan membawa kenikmatan dan kenangan manis.”
“Jawaban yang bijak, itu akan kugunakan untuk lirik lagi terbaruku, mau mendengarnya? Kau akan menjadi orang pertama yang mendengarnya.”
Eran mulai kesal dengan bard yang ada didepannya ini.
“Baiklah Halbarad the Bard kurasa aku akan segera pergi. Terima kasih atas obrolan singkatnya. Kuharap kita tak bertemu lagi,” ujar Eran sambil menganggkat bokongnya dari kursi yang ia duduki.
“Bagaimana kau bisa selamat dari pembantaian itu ?”
Eran terdiam mendengar pertanyaan dari Halbarad. Ia memandang tajam wajah Bard itu, sangat tajam.
Dengan pandangan mengerti, Halbarad memberi isyarat pada Eran untuk mengikutinya. Ada sesuatu di mata Halbarad yang beresonansi dengan rasa sakit Eran.
“Ikuti aku. Kau bisa mempercayaiku, bahkan jika aku mencoba menyerangmu bisa kupastikan aku akan terbunuh lebih dulu sebelum bergerak.”
Lalu Halbarad melangkahkan kakinya. Eran masih terdiam tak percaya, ia sedikit waspada terhadap Bard itu.
“Ayo cepat!” pekik Halbarad membuyarkan lamunan Eran. Dengan enggan, ia bergerak dari tempatnya, terdorong untuk mendengar lebih banyak, lalu ia pun mengikutinya.
Eran mengikuti Halbarad keluar dari Tavern, mereka melangkahkan kaki melewati hiruk pikuk keramaian dijalan. Dengan Halbarad memimpin mereka melewati jalan-jalan berliku di Desa Alku itu.
Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepalanya. Jalanan semakin sempit terlihat beberapa orang melihat mereka dengan tajam. Lalu tak lama Halbarad berhenti di salah satu bangunan diujung gang. Mereka memasuki bangunan itu, Eran sempat melirik papan nama Herald Inn diluar tadi.
Penginapan di gang sempit seperti penginapan orang buangan saja, bahkan mata dunia pun tak sanggup untuk hanya mengintipnya saja. Jika dilihat sekilas bangunan ini seperti akan rubuh, banyak dinding-dinging yang retak, lantai yang retak. Eran harus berhati-hati untuk memilih pijakan di anak tangga karena kayunya terasa reot.
Mereka pun berhenti di depan kamar dilantai dua.
“Ayo masuk,” ajak Halbarad, setelah berada didalam Halbarad mengunci kamar itu dan menggantungkan Lute-nya di gantungan tak jauh dari jendela kamar.
“Kau masih mencurigaiku?” tanya Halbarad saat melihat Eran masih berdiri di depan pintu.
“Sudah sewajarnya aku waspada pada orang asing.”
“Lalu kenapa kau masih mengikutiku sampai disini ?”
“Kau terlihat lemah,” jawab Eran mengejek.
“Sial terserah. Ngomong-ngomong bukan lelaki bila tak berantakan bukan ?” ujar Halbarad, Eran memilih duduk di kursi dekat jendela.
Di dalam kamar yang sederhana itu, Eran menatap tajam setiap gerak-gerik laki-laki yang sedang sibuk membereskan ruangannya. Ia masih tidak sepenuhnya percaya pada bard bernama Halbarad ini.
Halbarad menyadari rasa curiga Eran dan ia menghentikan aktivitasnya lalu berkata, “Kau tahu, kadang-kadang, kehidupan membawa perubahan tak terduga. Aku datang ke Alku karena rasa ingin tahu, ingin menjelajah, dan ingin melepaskan diri dari belenggu masa lalu.”
“Lepaskan diri dari apa?” tanya Eran.
Halbarad terdiam sejenak seolah berpikir tentang jawaban yang tepat, “Setan masa lalu, penyesalan, dan kenangan pahit, namun, kau tahu, Alku telah menjadi tempat perlindungan bagiku.”
“Baiklah sang pujangga, sebaiknya kau berhenti membuang-buang waktu ku, aku akan bertanya sekali lagi. Siapa kau ?” tanpa membuang-buang waktu Eran langsung bertanya dengan sedikit mengancam.
“Oke baiklah, aku Halbarad dari selatan seperti yang kau tau aku Bard.”
“Bagaimana kau tau itu ?”
“Ayolah, pembantaian itu sudah menjadi rahasia umum, bukan? bahkan banyak di ceritakan di buku dan syair-syair para pujangga.”
“Bukan itu yang kumaksud, tapi, bagaimaba kau bisa tau aku Sinners?” tanya Eran mengancam.
“Haruskah?” tanya Halbarad jengah sedangakan Eran melihatnya dengan tatapan tajam.
Halbarad mengehembuskan nafasnya, ia mendekat lalu menekukan lututnya dihadapan Eran.
“Halbarad de Sinners memberi hormat pada keturunan langsung Olaf de Sinners,” ucap Halbarad.
Eran terkejut dengan pernyataan si Bard berisik ini. Di ruangan yang remang-remang, suara Halbarad bernada serius saat dia mengungkapkan identitas aslinya.
“Kau Sinners?” tanya Eran tak percaya.
“Benar,” lalu ia menjulurkan sesuatu dari tangannya. Eran melihat kalung ber-pendant silver. Itu adalah tanda dari Sinners.
“Kalung perak,” Eran membandingkan dan terlihat sama dengan yang Eran miliki. Ia merasa seperti sedang berada dalam pusaran emosi yang kompleks.
Eran masih terdiam, mencerna informasi yang baru saja ia terima. Ia merasa hatinya berdebar-debar dan pikirannya berkecamuk. Berbagai pertanyaan dan perasaan campur aduk melintas dalam pikirannya. Ia merasa tersentak oleh kebenaran yang baru saja diungkapkan oleh Halbarad.
“Apa kau masih mencurigaiku ?”
“Aku tak mencurigaimu..tapi…,” Eran berhenti sesaat membuat Halbarad tegang.
Bisa saja dia adalah penipu ulung yang mencuri kalung itu atau menemukannya secara acak, namun jika memang seperti itu seharusnya Halbarad tidak tau detail tentang kalung ini.
Setelah beragumen dengan dirinya sendiri, Eran pun melanjutkan perkataan yang ia gantung dari tadi.
“Aku hanya tak suka dengan mulutmu yang selalu banyak bicara.”
“Begitulah seharusnya ucapan seorang Sinners, kasar dan tak beradab.”
Eran tersenyum mendengar penuturan Halbarad.
Disudut hatinya ia merasa senang karena Tuhan masih menyisakan bajingan Sinners lainnya, ia setidaknya sedikit merasa tak kesepian.
“Pertemuan kita memang aneh,” ujar Eran.
“Masa bodoh dengan itu, berikan aku pelukan kawan.”
Mereka pun saling merangkul.
“Sudah lama aku menunggumu, aku sengaja menyewa penginapan ini lebih lama hanya untuk menanti kedatanganmu kawan,” ujar Halbarad.
“Jadi kau sudah tau aku akan datang.”
“Tentu saja.”
“Apalagi yang kau tau tentang diriku ?”
“Hmmm…Tak banyak, hanya sepak terjangmu sebagai mercenary dan tentu saja julukanmu Black Shadow yang cukup terkenal dikalangan bawah tanah,” jelas Halbarad.
“Jadi kau mata-mata kerajaan?” tanya Eran curiga, Halbarad tertawa mendengar pertanyaan itu.
“Tentu saja bukan!! Aku hanya seorang Bard kawan. Dan kau pasti tau bagaiman wilayah selatan dikenal sebagai sarangnya mata-mata dan tempatnya orang bebas, para seniman pun berkumpul disanal, dan kebetulan pelarianku menuju kesana. Secara kebetulan juga cita-citaku menjadi seorang penyair, lalu aku ditempa disana.”
Eran semakin menyipitkan matanya mendengar jawaban dari orang itu, lalu Halbarad menghembuskan nafasnya dan melanjutkan penjelasannya.
“Yang harus kau ingat adalah, kami para Bard tersebar diseluruh benua Anthares, dan kami membentuk Canary Whistle. Itu merupakan jaringan informasi yang luas, mudahnya adalah perkumpulan para informant kami. Kurasa kau sudah mengerti dengan penjelasanku.”
“Ternyata, kau bukan hanya seorang bard biasa,” puji Eran sedikit kagum.
Halbarad terlihat kesal dengan pujian Eran, “berhenti menghinaku.”
“Apa telingamu tak dengar? Aku memujimu.”
“Bercerminlah, lihat bagaimana menjengkelkan wajahmu itu,” Eran tertawa mendengar perkataan Halbarad.
Saat malam semakin larut, Eran mendapati dirinya berbagi penggalan kisah tragisnya sendiri dengan Halbarad, memercayai kemampuan sang penyair untuk memahami kedalaman rasa sakitnya. Halbarad mendengarkan dengan saksama, matanya dipenuhi kesedihan.
Namun, seiring malam semakin larut, ketidaktahuan Eran pun tumbuh kembali. Ia masih belum tahu dengan pasti apakah bard ini dapat dipercaya sepenuhnya. Eran tidak tahu apa yang sebenarnya ada di balik senyum Halbarad, apa yang disembunyikannya, dan apakah pertemuan mereka ini adalah takdir atau hanya kebetulan belaka.
Eran akhirnya memutuskan untuk mempercayai naluri dan intuisinya. Mungkin memang takdir telah mempertemukan mereka di desa Alku ini, dan jika begitu, ia ingin mengikuti alurnya.
─────────────༺⚔༻─────────────