Paladin Dalam Fantasi Gelap - Chapter 6
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────
Sudah larut malam, pegunungan kecil itu tidak sepenuhnya gelap atau sunyi. Zirah suci Aiden menerangi sekitarnya, sementara jeritan para undead terdengar dari segala arah. Aiden dan para prajurit pemula berlari ke kaki gunung. Di belakang mereka, undead mengejar tanpa henti.
‘Zeras belum menangkap necromancer itu.’
Jadi, Zeras meninggalkan jejak di hutan agar Aiden bisa menyusulnya. Rumput liar terbakar, dan permukaan pohon menghitam terbakar. Aiden mengikuti jejak itu di belakang Zeras.
“Semangat!”
Meskipun para prajurit pemula berlari dengan sekuat tenaga hingga otot-otot mereka hampir meledak, jarak antara mereka dan Aiden semakin jauh.
Namun, tak ada waktu untuk memikirkan mereka. Aiden memfokuskan kekuatan sucinya ke ujung pedang dan menggores tanah. Cahaya putih menandai jalur yang dilewati Aiden. Dalam kegelapan hutan, menemukan jejak Zeras akan sulit bagi para prajurit pemula, jadi Aiden menyiapkan cara ini untuk petunjuk mereka. Aiden segera berlari dengan kecepatan penuh. Ia mendaki lembah kecil, berlari menanjak di jalan curam.
Memasuki wilayah berbukit. Sebuah dataran yang luas dengan lekukan-lekukan lembut. Jejak itu berhenti di sana, jadi Aiden dengan cepat memeriksa sekelilingnya.
Dari kejauhan, ia melihat dua siluet di ujung bukit. Saat ia mendekat, situasinya tampak menyulitkan. Di belakang necromancer itu, hanya jurang yang dalam. Saat ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari sebuah botol, api Zeras melelehkan botol itu.
“Bunuh diri? Itu adalah dosa terbesar di hadapan Tuhan.”
“Tuhanku berbeda. Ini adalah pengabdian bagi-Nya.”
Zeras melirik Aiden yang datang mendekat dan menghela napas.
“Bagaimana bisa kau ada di sini? Hah, apakah kau benar-benar berhasil mengalahkan Dark Warrior?”
Bertahan melawan Dark Warrior saja sudah luar biasa bagi seorang paladin baru seperti Aiden. Namun, Aiden melakukan lebih dari itu. Ini adalah hasil dari dua tahun latihan tanpa henti. Namun, mengingat apa yang akan datang, ini masih belum cukup.
“Aku berhasil mengatasi masalah itu. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
“Aku tak tau harus bilang apa. Kau berhasil, tapi di sini tak ada kemajuan. Seperti yang kau lihat.”
Necromancer itu lebih memilih bunuh diri daripada ditangkap. Saat ia mundur selangkah ke arah tebing, bebatuan kecil berguguran.
Ia menyeringai pahit dan menatap Aiden.
“Sayang sekali. Aku tidak bisa menggunakan wadah sebaik dirimu. Itu benar-benar disayangkan.”
Mata kelam necromancer itu berkilat singkat dengan semangat.
Mereka selalu mencari tubuh yang bagus. Mereka akan merenggut jiwa, mengurungnya dalam sebuah inti, dan mengikatnya kembali ke tubuh untuk dijadikan boneka. Meski membusuk, marionette itu tetap bergerak. Necromancer di dunia ini benar-benar menjijikkan. Aiden merasa jijik dengan tatapan itu dan mengerutkan dahi.
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Meskipun aku tahu kau tidak akan menjawab.”
Dia pasti menunggu Aiden di pemakaman. Dari siapa dia mendengar tentang Aiden, dan mengapa dia menunggu? Jika dalangnya adalah Uskup Forel, apa sebenarnya tujuan Forel? Beraliansi dengan bidah? Meskipun di dalam game uskup itu adalah antagonis, dia bukan seorang murtad.
“Aku tak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu.”
Aiden mendengus tak percaya. Hak? Para fanatik ini benar-benar sulit dipahami.
“Kau bisa membuatnya bicara?”
“Jika kita mengikatnya di tiang siksaan dan memberinya sedikit sentuhan, siapa pun akan mengatakan yang sebenarnya. Selama mereka masih hidup, tentu saja.”
Necromancer itu tersenyum menyeringai.
“Sayangnya, itu tidak akan terjadi. Oh, Tuan Iblis, terimalah jiwaku sebagai persembahan.”
Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar dan melompat dari tebing.
“Astaga, semuanya berantakan. Tanpa dia, kita…”
Sebelum Zeras sempat menyelesaikan kalimatnya, Aiden sudah berlari ke depan. Ia mencabut tombaknya dan melemparkannya dengan kuat ke arah jatuhnya necromancer itu.
Whoosh!
Tombak itu menembus bahunya dan tertancap di sisi tebing seberang.
“Aaaaarrgh!”
Zeras menatapnya dengan mulut ternganga.
“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau tokoh yang keluar dari kitab suci?”
Aiden tetap tenang.
“Tolong bantu aku melepaskan baju zirah ini.”
Zeras, yang masih terkejut, mendekati Aiden dari belakang dan melepaskan pengait baju zirah sucinya.
“Tidak ada waktu. Master-ku harus segera menemui Uskup. Aku akan membawa necromancer ini dan bergabung nanti.”
Uskup mengatakan mereka akan menyerang saat upacara persembahan pada Dewa Kegelapan dimulai.
Aiden telah menghabiskan terlalu banyak waktu karena Dark Warrior. Saat ini, mungkin sang uskup sedang menyembunyikan anak-anak, atau lebih buruk lagi, ritual pemujaan Dewa Kegelapan mungkin sudah dimulai. Yang terakhir adalah skenario terburuk.
“Apa yang sedang kau lakukan!”
Aiden melangkah menjauh dari tepi tebing. Otot-otot pahanya menegang. Sekaligus, ia berlari kencang menuju jurang. Dorongan kasarnya membuat debu berterbangan di belakangnya.
“Sampai jumpa nanti.”
Aiden melompat ke udara. Dia melompat ke dalam jurang yang curam, yang bahkan hanya dengan melihat ke bawah saja sudah membuat pusing. Di pertengahan tebing seberang, tepat di atas tempat necromancer terjebak di bebatuan, Aiden menghantam keras dengan tinjunya. Sarung tangan baja Aiden bergesekan dengan bebatuan, memuncratkan tanah dan kerikil ke wajahnya.
Suara dentuman keras terdengar di lembah. Setiap kali tangan Aiden menyentuh tonjolan bebatuan, mereka hancur di karena berat badannya. Aiden terus bergesekan dengan dinding tebing. Menggunakan tangan dan kakinya, dia memperlambat kecepatan jatuhnya semaksimal mungkin, hingga akhirnya kecepatannya mulai berkurang.
Dia hampir sampai ke batu yang sudah ia perkirakan. Aiden mencabut pedang sucinya dan menancapkannya ke dinding tebing. Pedang suci yang ditempa dari adamantite itu dengan mudah menembus dinding. Saat ia meluncur turun dan akhirnya menginjak batu yang kokoh, ia pun berhenti.
Aiden menoleh. Necromancer itu menatapnya dengan mata terbelalak, terkejut.
“Kau… kau…”
“Diam.”
Buk!
Pukulan Aiden menghantam rahangnya. Aiden mencabut tombak yang tertancap di bahu necromancer itu, membuatnya terbangun dari pingsannya dengan teriakan kesakitan. Setelah sekali lagi memukulnya, necromancer itu akhirnya benar-benar pingsan. Aiden mengangkat ke pundaknya dan mulai memanjat tebing. Karena ia berada di sisi tebing yang berbeda, ia harus mengitari tempat ritual persembahan.
Dia berlari secepat mungkin.
── ⋆⋅☼⋅⋆ ──
Aiden merangkai ranting pohon yang kuat dan beberapa batu untuk membuat penutup mulut dadakan. Jika necromancer itu bangun dan menggigit lidahnya, itu akan menjadi masalah.
Setelah memasukkan penutup mulut itu ke dalam mulut necromancer, ia menuju sebuah desa kecil di pegunungan.
Desa yang ditunjuk oleh Uskup Forel sebagai lokasi di mana altar pengorbanan manusia berada. Zeras sudah melakukan survei sebelumnya, jadi dia tak ragu tentang tempat itu.
Yang menjadi kekhawatiran adalah yang mungkin akan terjadi di sana. Uskup itu adalah seseorang yang memuaskan nafsunya dengan anak-anak.
Anak perempuan dijadikan mainan, sementara anak laki-laki dihancurkan mentalnya untuk dijadikan pasukan pribadinya. Nanti di pertengahan game, pasukan kasim yang sudah tercipta akan jadi musuh yang sangat menyulitkan para pemain.
Kesempatan untuk menghancurkan kekuatan sang uskup sebelum ia menjadi kuat adalah sebuah keuntungan. Tapi, jika dia memang terbukti memiliki hubungan dengan Dewa Kegelapan, Itu akan menajadi kabar buruk. Artinya tingkat kesulitan dunia ini meningkat secara drastis.
Pikirannya Aiden terhenti saat sebuah desa kecil di tengah pegunungan muncul di depan matanya.
Aiden mengerutkan kening.
Di pintu masuk desa, seorang penduduk tergeletak, berlumuran darah.
‘Dia sudah mati.’
Matanya tampak hampa. Aiden segera memasuki desa. Seperti desa yang baru saja diserang oleh kawanan perampok, semuanya telah hancur berantakan. Rumah-rumah dan bangunan dibuka paksa, barang-barang berserakan tak karuan, dan jalanan dipenuhi mayat.
“Sialan.”
Saat mencapai pusat desa, Aiden tak bisa menahan keterkejutannya.
Uskup Forel terikat dan berlutut, sementara empat pasukan kasimnya yang terbakar telah berubah menjadi abu hitam. Puluhan anak-anak juga dijaga dengan baik oleh prajurit baru yang sudah bergabung dengan Zeras.
Sampai di sini, semuanya baik-baik saja.
“Kau sudah sampai?”
Di depan Zeras, ada sebuah alat penyiksaan. Seorang anak kecil diikat pada sebuah tiang kayu di atas tumpukan jerami, menangis tersedu-sedu.
Zeras, dengan wajah tanpa ekspresi, menjentikkan jarinya.
Fwoosh, tumpukan jerami itu disambar oleh api biru. Api penghakiman milik Zeras. Api ini mampu membakar seorang penjahat dalam sekejap.
‘Tidak mungkin…’
Dalam kekalutan, Aiden melupakan Zeras. Dia adalah seorang fanatik yang tanpa ampun membakar manusia.
Berbagai pesan mulai muncul di benaknya secara bersamaan.
“Sialan!”
Aiden menggigit bibirnya dan melompat ke dalam kobaran api yang menjulang tinggi.
── ⋆⋅☼⋅⋆ ──
Aiden bukanlah orang yang baik hati.
Setelah memasuki tubuh ini, semua tindakan altruistik (tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun) yang dia lakukan hanyalah untuk perkembangan dirinya.
Untuk bertahan hidup pada alur cerita akhir yang mengerikan. Dan juga karena dia tak mau hidup sebagai orang lemah di dunia yang sepenuhnya dikuasai oleh hukum rimba ini.
Dia berpura-pura menjadi orang baik.
Apakah kali ini juga sama? Aiden bertanya pada dirinya sendiri berulang kali, tapi tak ada jawaban.
“Kekuatan hidup yang tidak masuk akal.”
Hanya suara seseorang yang merdu meresap ke telinganya. Dia dengan susah payah membuka kelopak matanya, dan di balik penglihatannya yang kabur, rambut platinum bergoyang dengan anggun.
Penampilan yang familiar.
‘Uriel?’
Salah satu dari enam santa Gereja.
“Apa kamu sudah sedikit sadar?”
Aiden semakin sadar karena ia merasa tubuhnya berguncang-guncang.
“······Di mana kita sekarang?”
“Di dalam keretaku.”
Kejadia saat dia melompat ke dalam api yang berkobar terlintas di benaknya. Aiden segera bangkit duduk.
“Tunggu dulu! Jangan bergerak terlalu cepat······”
“Zeras. Para anak kecil. Pokoknya, apa yang terjadi?”
Melihat Aiden yang khawatir, Uriel terkejut dan menempelkan tubuhnya ke dinding kereta.
“Ka, kamu sedang membicarakan anak yang teracuni oleh sihir jahat itu, kan? Tunggu sebentar. Aku telah menyelamatkan hidupmu, tapi kamu tidak mengucapkan terima kasih sedikit pun.”
Aiden mengerutkan kening karena frustasi. Melihat santa itu ketakutan, Aiden menghela napas.
“Maaf. Tapi, Nona Santa, saya sedang terburu-buru. Tolong katakan. Apa yang terjadi?”
“Aku belum menjadi santa, dan aku juga tak ingin mendengar permintaan maaf. Haah, sudahlah. Bocah itu telah ku sucikan, dan penyelidik bidat telah menahan uskup dan ahli sihir komando, mereka menuju pusat Gereja terlebih dahulu. Sudah cukup?”
Anak itu selamat? Jelas, saat api berkobar, dia mendorong anak itu dari rak hukuman. Namun, jika itu Zeras, dia pasti akan kembali menempatkan anak itu di rak hukuman.
Dalam permainan, dari puluhan ribu rute yang ada, kasus di mana Zeras mencabut hukumannya sangat sedikit.
Aiden sama sekali tidak mengerti.
“Apa semua itu benar?”
“······Aku juga sulit mempercayainya, tapi itu benar.”
Aiden membuka jendela kereta.
Padang rumput yang luas. Banyak pasukan mengawal satu kereta, membentuk barisan panjang.
Dia melihat bendera yang dipegang oleh penunggang kuda. Lambang singa. Aiden pun mengenalnya dengan baik.
‘Marquis Sachili.’
Artinya, Uriel belum menjadi santa. Jika dia diangkat menjadi santa, dia harus meninggalkan gelar dan keluarganya.
Aiden langsung menoleh ke Uriel.
“Kenapa aku ada di sini? Ke mana rombongan ini menuju?”
“Jika kamu terus mengutarakan pendapatmu sendiri, aku tak akan menjawab lagi. Kamu harus tenang dulu······”
“Aku baik-baik saja.”
Setelah dipikir-pikir, Uriel menjawab bahwa Zeras ‘pergi terlebih dahulu’ ke Gereja. Artinya, tujuan barisan ini juga Gereja itu. Rute yang berhubungan dengan Uriel terlintas di benaknya.
Aiden biasanya mengabaikannya, tapi para pemain terkadang memilih rute ini untuk menarik perhatian Uriel, yaitu bergabung dengan pasukan ini. Mengawal Uriel menuju Gereja untuk upacara pengangkatan santa, atau, jika mereka memilih karakter jahat dari sisi iblis, mereka bisa memilih rute ini untuk membunuh atau menculiknya.
Yang terakhir itu susah, tak mungkin berhasil.
Karena pemimpin pasukan ini adalah seorang master pedang yang terkenal di dunia, yang disebut ‘Holly Sword’.
Oleh karena itu, baik memilih untuk mengawal atau memilih apa pun, pemain tak memiliki peluang untuk ikut campur dalam rute ini.
Singkatnya, rute ini bersifat acara. Para pemain biasa hanya ingin menikmati penampakan wajah Uriel.
Tentu saja, Aiden tak punya waktu untuk membuang-buang waktu seperti itu.
“Aku akan menuju Gereja sendiri.”
Jika dia ikut dalam barisan ini, dia mungkin akan gila karena terlalu lambat. Terlalu besar dan lambat.
Dia harus mencari tau tentang uskup dan Zeras. Aiden membuka pintu kereta dengan keras, dan angin bertiup kencang.
Ekspresi Uriel akhirnya berubah menjadi panik. Aiden menoleh padanya dan berkata, “Akan ada sekelompok orang yang mencoba mendekat dengan menyamar sebagai pedagang. Jangan tanggapi mereka.”
Itu adalah insiden yang disebabkan oleh masalah politik antar keluarga, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan iblis atau penyembah berhala.
Jika mengikuti rute ceritanya, semuanya akan berakhir dengan baik, tapi karena dia memilih tingkat kesulitan hell, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Jika santa itu mati, alur cerita akhir akan menjadi lebih sulit. Itulah alasan dia memberi petunjuk.
“Terakhir, aku pasti akan membalas budi. Aku akan mendengar detailnya di kantor pusat. Aku pergi sekarang.”
Aiden melompat keluar dari kereta. Uriel hanya tercengang melihat punggungnya.
Suara Yuron terdengar dari barisan belakang.
“Ah, Aiden-sama!”
Yuron tampak seperti melihat hantu, lalu menghela napas lega.
Di gerobak yang dia kendarai, terdapat baju besi Aiden. Petra berjalan di sampingnya.
Tiba-tiba, nilai suci dan kemuliaan melonjak tajam.
“Yuron, cepatlah.”
“Ya, ya!”
Untuk saat ini, dia lulus ujian.
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────