Mereka yang Hidup Tanpa Hukum - Chapter 11
Ratu Mawar
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────
Saat mendengar pertanyaan Kairus, Jonathan menunjukkan ekspresi seolah-olah Kairus baru saja mengucapkan sesuatu yang tak masuk akal.
“Bagi seorang penadah barang curian, siapa pun yang datang membawa uang adalah rajanya. Peduli amat soal ini atau itu.”
Dengan kata lain, jika Kairus mendatangi tempat itu dengan kantong penuh, dia mungkin bisa mendapatkan petunjuk tentang rahasia keluarga Featherwing atau jejak Longjoyeonun.
“Kalau uang yang kau kumpulkan cuma sedikit dari gaji seorang pelayan, apa toko gadai Amuldeory akan menyambutmu dengan baik?”
“Tidak mungkin. Kalau kau datang dengan uang receh, mereka akan menganggapmu pengemis. Kau bisa dipermainkan, seolah tubuhmu dipatahkan dan digantung di tongkat seperti mainan.”
Itu adalah cara halus untuk mengatakan “tidak mungkin.” Namun, berkat petunjuk dari Jonathan, Kairus kini tahu ke mana harus pergi.
Pada akhirnya, Kairus membutuhkan uang dalam jumlah besar. Sayangnya, Jonathan tidak menunjukkan niat untuk menaikkan gajinya. Sambil berpikir keras, Kairus berkata dengan hati-hati.
“Bukankah kontrak melarangku untuk melakukan pekerjaan sampingan?”
“Benar. Tapi kau sudah membuktikan jika kau bisa dipercaya. Aku tak mungkin memperlakukanmu seperti sebelumnya, bukan?”
Jonathan tertawa sinis.
“Aku tidak akan melarangmu mencari pekerjaan sampingan di waktu luangmu. Tapi jangan sampai pekerjaan utama terbengkalai karena itu.”
Jonathan memberi Kairus kesempatan untuk mencari pekerjaan sampingan yang bisa menghasilkan uang di sela-sela waktunya.
“Kota Bennett penuh peluang untuk mendapatkan uang. Kalau kau mencarinya dengan baik.”
“Pastinya bukan dengan cara yang sah, kan?”
Mendengar ucapan Kairus, Jonathan tertawa kecil, “Hm?”
“Jika kau tahu cara yang cocok untuk menghasilkan banyak uang dengan legal bagi orang-orang seperti kita, beri tahu aku juga. Sial, aku juga ingin meninggalkan restoran busuk ini dan hidup nyaman.”
Bagi orang yang tidak punya apa-apa, cara tercepat untuk menghasilkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat adalah dengan kejahatan.
Yang kau butuhkan hanya senjata tajam dan topeng murah, ditambah sedikit keberanian. Cukup itu saja.
Jika kau bertanya seberapa besar keberanian yang diperlukan, jawabannya adalah cukup untuk menghadapi risiko mati dengan cara membeku di tempat kerja paksa jika tertangkap.
Bagi mereka yang tidak punya apa-apa, cara tercepat untuk mendapatkan uang besar adalah dengan mempertaruhkan nyawanya.
“Terima kasih sudah mengizinkan. Kalau begitu, aku akan mencari pekerjaan sampingan yang cocok sambil bekerja di restoran.”
“Ingat, pekerjaan di restoran tetap prioritas utamamu. Kalau kau perlu pergi selama beberapa hari untuk urusan pribadimu, beri tahu aku sebelumnya. Dan jika kau menghasilkan uang dari pekerjaan sampingan sampai berhari-hari, aku ambil 20% dari penghasilanmu.”
Jonathan ingin mengambil 20% dari penghasilan Kairus dari pekerjaan sampingan.
Jumlah itu bisa dianggap besar atau kecil, tergantung dari sudut pandangnya. Namun, bagaimanapun juga, apa yang dibicarakan Jonathan tidak sesuai dengan kontrak yang dijamin oleh Rose Garden.
“Baik, aku mengerti. Tapi apa isi kontrak yang dijamin oleh Rose Garden bisa diubah juga?”
“Asalkan semua pihak yang terlibat dalam kontrak setuju, bisa saja. Tapi kalau yang berubah adalah jaminannya, biayanya bisa sangat mahal.”
Jonathan menjelaskan bahwa Rose Garden hanya akan terlibat jika kontrak dilanggar, dengan mengambil kembali jaminan.
Jadi, perubahan isi kontrak tidak jadi masalah. Namun, jika jaminan yang berubah, biayanya bisa berlipat ganda.
“Setahuku, jika jaminannya berubah, biaya yang dikenakan bisa dua kali lipat dari jumlah yang awalnya dibayar.”
“Wow.”
Tampaknya ini juga peringatan untuk lebih berhati-hati dalam memilih jaminan.
“Aku jadi penasaran siapa yang sebenarnya menjalankan Rose Garden ini.”
Mendengar ucapan Kairus, Jonathan menggelengkan kepalanya.
“Bukan ‘siapa,’ tapi panggil dia ‘Tuan Direktur.’ Dan untuk apa kau ingin tahu? Orang-orang seperti kita tak seharusnya penasaran dengan orang-orang penting. Sudahlah, kita sudah siap, buka saja restorannya.”
Kairus mengangkat jempol sebagai tanda setuju pada kata-kata Jonathan.
───── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────
Malam hujan dengan rintik-rintik, sebuah mobil merah besar berhenti di depan rumah mewah di pinggiran timur laut kota Bennett.
“Ini bukan rumah, lebih mirip istana,” gumam seorang pria paruh baya yang duduk di kursi belakang.
Sementara pelayan di kursi penumpang sibuk membersihkan kaca depan yang basah, pria paruh baya itu, mengenakan jas hujan dan monokel, turun dari mobil dengan ekspresi muram.
Dia mengetukkan tongkatnya ke tanah dan menatap rumah besar di depannya.
“Para bajingan ini,” ujarnya dengan nada penuh kebencian.
Setelah berkata demikian, pria itu berjalan perlahan menuju gerbang depan. Pelayan yang mengikutinya segera angkat bicara.
“Buka pintunya,” perintahnya kepada penjaga.
Salah satu pria yang berjaga di balik gerbang menoleh dan menjawab, “Kami tidak bisa membukanya sampai identitas Anda terkonfirmasi. Harap tunggu.”
Jawaban dingin itu membuat wajah pria paruh baya berubah masam.
“Hah, apa kau tahu siapa yang sedang kau hadapi?”
Pelayan di sampingnya mencoba menegur, namun penjaga tetap tenang dan berkata, “Kami tidak tahu, itulah sebabnya kami meminta Anda menunggu.”
Pria paruh baya itu kemudian angkat bicara dengan nada marah, “Lihatlah kelakuan merendahkan ini. Meminta Direktur Bea Cukai Kekaisaran untuk menunggu saja sudah hinaan, ditambah lagi kalian menyuruhnya menunggu di luar dengan cuaca dingin seperti ini? Apakah itu masuk akal?”
“Kami hanya menjalankan tugas kami,” jawab penjaga sambil melirik rekannya yang berada di pos jaga. Rekan tersebut segera mengangkat telepon untuk memverifikasi identitas tamu.
“Setelah identitas Anda terkonfirmasi, Anda akan diperlakukan sesuai. Mohon bersabar.”
Direktur Bea Cukai menahan amarah yang berkobar di dalam dadanya. Tak lama kemudian, suara dari pos jaga terdengar, “Identitas terkonfirmasi. Selamat datang.”
Gerbang pun terbuka, dan tanpa ragu, pria paruh baya itu mengayunkan tongkatnya ke arah salah satu penjaga.
“Bajingan sialan!”
Namun, tongkat tersebut tidak pernah mencapai kepala penjaga karena penjaga itu dengan cepat menangkap tongkatnya.
“Tolong hindari tindakan kekerasan di dalam properti ini. Ini peringatan lisan terakhir, Direktur,” ucap penjaga dengan tenang.
“Lepaskan sekarang juga! Mengurung bajingan sepertimu di kamp kerja paksa selama beberapa dekade bukanlah masalah bagiku!”
Penjaga itu hanya menatapnya dengan dingin, sementara suara kayu tongkat yang mulai retak terdengar di udara.
“Izinkan saya mengantar Anda masuk,” katanya, tetap tenang.
Direktur Bea Cukai menatapnya dengan marah, tetapi akhirnya berkata, “Baiklah, aku ingin berbicara langsung dengan pemilik rumah ini.”
Dengan kemarahan yang masih tersisa, Direktur Bea Cukai mengikuti penjaga itu masuk ke dalam rumah.
Sambil berjalan, dia memperhatikan interior rumah yang megah. Ia harus mengakui bahwa rumah ini dirawat dengan sangat baik dan menampilkan dekorasi yang tepat. Pemiliknya tampaknya memiliki selera yang tinggi, memilih bahan dan warna dengan tepat sehingga terlihat mewah tanpa kesan yang berlebihan.
“Direktur Bea Cukai, selamat datang. Kami sudah menunggu Anda,” sapa penjaga, membuka sebuah pintu menuju ruangan yang didominasi warna gelap dan merah.
Di dalamnya, terdapat dua orang yang sudah duduk di meja. Salah satu dari mereka adalah orang yang dikenal oleh Direktur Bea Cukai—Kepala Polisi kota Bennett, Jensen Rudbow.
“Kepala Polisi Jensen Rudbow,” Direktur Bea Cukai memberi salam singkat, kemudian memandang ke arah orang kedua, seorang wanita yang mengenakan kemeja sutra merah, dasi hitam, dan rok plisket biru tua.
Wanita itu meletakkan cangkir tehnya dan menyapa dengan suara lembut, “Selamat malam.”
Suara wanita itu terdengar indah, seperti aliran sungai yang menyejukkan di hari yang panas.
“Siapa wanita ini?” pikir Direktur Bea Cukai sambil menatapnya dengan penuh kebingungan.
Ia lalu berkata dengan nada menghina, “Kepala Polisi, meskipun kau menyukainya, membawa pelayan bar ke tempat seperti ini adalah hal yang tidak pantas.”
Begitu mendengar pernyataan Direktur Bea Cukai, wajah Kepala Polisi langsung memucat.
“Eh, Direktur, dia adalah….”
Kepala Polisi hendak melanjutkan ucapannya, tetapi wanita itu hanya mengangkat tangannya sedikit, dan seketika, Kepala Polisi terdiam, menelan kembali kata-katanya.
“Pelayan bar yang Anda maksud bernama Cecilia Longhorn. Selamat datang di rumah saya.”
Barulah saat itu Direktur Bea Cukai menyadari kesalahannya—wanita di hadapannya adalah pemilik rumah ini, pemimpin Rose Garden.
Ia menelan ludah, tertawa kaku, dan mencoba meredakan situasi,
“Aduh, tampaknya aku telah melakukan kesalahan.”
“Anda menyadari telah melakukan kesalahan, ya?”
Cecilia Longhorn menyibakkan rambut hitamnya ke belakang dengan anggun, lalu memberi isyarat ke arah pintu dengan gerakan kecil lidahnya.
Pintu segera terbuka, dan beberapa pria bersenjata masuk.
“Anda memanggil kami?” tanya salah satu dari mereka.
“Tolong tangkap pria ini,” perintah Cecilia dengan tenang.
Para pria bersenjata itu langsung menangkap Direktur Bea Cukai dengan cekatan.
“Apa-apaan ini? Lepaskan aku!” teriaknya dengan panik.
Namun, tanpa memberi kesempatan lebih lanjut, Cecilia dengan cepat memasukkan alat pembuka mulut ke dalam mulutnya.
“Shh. Malam hari seharusnya tenang. Seorang pria terhormat harus mematuhi tata krama,” katanya lembut, seolah menenangkan seorang anak kecil.
Dengan suara pelan namun tegas, tang jepit besar itu masuk ke dalam mulut Direktur Bea Cukai, lalu Cecilia berkata dengan nada santai,
“Akan sedikit sakit, tahanlah.”
Tanpa basa-basi, suara berderak terdengar ketika satu gigi gerahamnya dicabut. Rasa sakit luar biasa segera menyerangnya, jauh lebih dari sekadar “sedikit sakit.”
Cecilia kemudian dengan tenang membersihkan luka tersebut, memasukkan kain kasa, dan mengeluarkan alat pembuka mulut dari mulutnya.
“Gigit kain gasanya dengan erat, tahan setidaknya dua jam. Jangan meludah atau membuang air liur maupun darah. Nah, sudah selesai. Kau sudah berjuang keras,” ucapnya, tetap tenang.
Direktur Bea Cukai, yang baru saja kehilangan giginya, menatap Cecilia dengan wajah merah padam karena amarah. Dia mengacungkan jarinya ke arahnya, mencoba melawan.
“Kau, kau ini…!”
“Ada apa?” balas Cecilia sambil tersenyum. Ia memukul-mukulkan tang jepit di tangannya dengan lembut, menghasilkan suara kecil ‘tak’, membuat Direktur Bea Cukai terdiam.
Cecilia tersenyum lebih lebar dan berkata, “Memang cocok sekali untuk seseorang yang mengurus urusan besar negara ini. Kau hampir saja jadi bisu.”
Sambil berkata begitu, ia menjulurkan lidahnya sedikit dan mengetuknya dengan jarinya dengan santai.
Setelah meletakkan tang jepit itu di atas meja, Cecilia menunjuk ke kursi di depannya, memberi isyarat agar Direktur Bea Cukai duduk.
“Tidak mungkin kau datang hanya untuk dicabut giginya, kan? Ini bukan klinik gigi,” ucapnya sinis.
Lalu, ia memberi perintah kepada para pria bersenjata, “Semuanya, sudah cukup. Silakan kembali berjaga di luar. Oh, dan tak perlu membawa hidangan untuk tamu kita yang terhormat ini.”
Setelah gerahamnya dicabut, dia tentu saja tak akan bisa menikmati makanan apapun.
Dengan senyum hangat, seolah kejadian barusan tak pernah terjadi, Cecilia memperkenalkan dirinya,
“Perkenalkan, saya Cecilia Longhorn, pemimpin Rose Garden.”
Direktur Bea Cukai tak peduli pada perkenalan itu, kemarahannya masih membara.
“Apa kau tahu apa yang akan terjadi jika Kekaisaran mengetahui apa yang baru saja kau lakukan padaku?” serunya, mengabaikan formalitas.
Cecilia, tetap tenang meski baru saja mencabut gigi orang, menjawab dengan tenang, “Tidak akan terjadi apa-apa, Alphonse Kimberly, Direktur Bea Cukai. Kau tidak akan memberitahu siapa pun, jadi Kekaisaran Ballorn juga tidak akan mengetahuinya.”
Suara Cecilia terdengar dingin namun penuh tekanan, membuat ancaman Direktur Bea Cukai terdengar hampa.
“Kau pikir aku akan membiarkan ini begitu saja?!” teriak Alphonse, marah.
Cecilia hanya tersenyum tipis, sambil menggulung rambutnya dengan jari.
“Lima belas budak pria yang kau beli melalui perusahaan pengangkutan Loomis & Wesson, bagaimana kabarnya mereka sekarang?”
Ucapan Cecilia itu langsung membuat wajah Alphonse yang sebelumnya penuh kemarahan, menjadi pucat.
“Bajingan ini, kau bilang semuanya akan dirahasiakan!”
Cecilia tersenyum dingin.
“Sepertinya kau belum tahu di Kota Bennett, janji tanpa jaminan tidak ada artinya.”
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────