Mereka yang Hidup Tanpa Hukum - Chapter 10
Penyusup Tak Diundang (3)
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────
Melihat potongan jempol yang terputus bersih, kesungguhan mereka terlihat jelas.
“Bagus. Sekarang keluar.”
Jonathan memasang ekspresi kaget mendengar perintah Kairus.
“Dasar bocah. Ini kan tokoku.”
“Tapi yang menghadapi mereka dari awal aku, kan?”
Memang benar, Kairus yang bertarung melawan mereka, jadi tak aneh jika dia yang menentukan nasib mereka.
“Mereka datang untuk membunuhku,” ujar Jonathan.
“Mereka tak akan berani lagi. Lebih tepatnya, mungkin mereka tak bisa lagi.”
Tanpa jempol, mereka tak bisa menggenggam senjata dengan kuat, sehingga jenis senjata yang dapat mereka gunakan sangat terbatas.
“Itu tidak penting. Yang penting adalah ada seseorang yang membayar mereka untuk mencoba memotong leherku. Itu yang utama,” kata Jonathan tegas.
Kairus menggumamkan sesuatu, lalu memandang ke arah si tawanan.
“Sebenarnya, aku ingin membiarkanmu pergi, tapi sepertinya bos kami tidak akan setuju kecuali kau memberi tahu siapa yang menyewamu.”
Mendengar itu, si tawanan memandang Kairus dengan penuh kekesalan.
“Tapi bukankah kau bilang akan melepaskanku setelah jempolku dipotong?”
“Aku memang bersedia membiarkanmu pergi, tapi masalahnya…”
Kairus menoleh ke Jonathan.
“Sepertinya aku harus mendapatkan izin dari seseorang dulu. Meskipun kita sudah membuat janji, tapi aku memiliki bos yang harus kupatuhi.”
Kairus tak bisa memerintah Jonathan untuk melakukan apa pun. Kenyataannya, Kairus adalah bawahan Jonathan. Jika atasan menolak, janji apapun yang sudah dibuat otomatis dibatalkan. Terlebih, Janji yang diucapkan Kairus hanya mengikat dirinya sendiri.
Seperti yang sudah dipikirkan Kairus sebelumnya, para penyusup ini memang perlu belajar lebih banyak tentang cara bersosialisasi.
Dengan nada halus, Kairus berkata, “Namun, jika bos kami tahu siapa yang menyuruhmu, aku yakin dia akan setuju dengan saranku. Benar, kan?”
Jonathan mengangguk setuju.
“Beri tau saja siapa yang menyuruhmu, dan bosku akan mempertimbangkan usulanku.”
Panggung sudah siap. Akhirnya, si tawanan yang sudah kehilangan jempolnya dan masih berdarah-darah itu menjawab.
“Aku tidak tahu nama pastinya. Sejujurnya, siapa yang membayar tidak penting bagiku selama aku dibayar.”
Jawaban itu memang benar, tapi jelas tidak memuaskan Jonathan.
“Tapi pasti ada ciri-ciri yang bisa dikenali,” kata Jonathan.
Jonathan bukanlah sosok yang sulit dibunuh. Apa pun yang dia lakukan di masa lalu, sekarang dia hanyalah seorang pemilik restoran yang jago berkelahi dan pandai memasak.
Jadi, kemungkinan besar, orang yang menyewa pembunuh ini bukanlah tokoh besar dengan banyak bawahan dari dunia bawah. Orang itu mungkin bertindak sendiri. Jika mereka bisa mengetahui ciri-ciri orang yang mengontak si pembunuh, jejaknya akan lebih mudah ditemukan.
“Ada tato di lengan kirinya. Wajah wanita dengan rambut ular.”
“Kau benar-benar bodoh. Bagaimana kau bisa hidup sampai sekarang?” Kairus langsung berkomentar. Sungguh, siapa yang pergi untuk menyewa pembunuh sambil membiarkan tato di lengannya terlihat?
Bahkan di Kota Bennett, menyembunyikan ciri-ciri seperti tato saat melakukan hal-hal mencurigakan sudah menjadi pengetahuan umum.
Apalagi, itu bukan tato biasa seperti jangkar, tengkorak, atau mawar. Itu seperti memohon untuk ditemukan.
Mungkin sebenarnya dia ingin dibunuh?
“Itu sudah cukup,” ujar Jonathan.
Jonathan tampaknya berpikir bahwa ciri-ciri itu sudah memadai. Dia segera bergeser sedikit ke samping, memberi jalan keluar.
“Pergi, dan kalau kau datang lagi, datanglah sebagai pelanggan.”
“Sial, menurutmu aku akan kembali?”
Si tawanan menjawab tajam. Setelah dipukuli habis-habisan, kehilangan jempol, dan diusir, siapa yang mau kembali ke sini untuk makan, bahkan jika mereka kelaparan?
“Baiklah, selamat jalan. Tapi kalau kau datang lagi dan bertingkah seenaknya, jempol tanganmu yang lain akan kuhabisi.”
Setelah memberikan salam, Kairus memandang ke arah sisa tawanan yang lain.
“Kalian mau apa? Jempol? Atau kepala?”
Salah satu dari keduanya harus dipotong agar mereka bisa pergi dari sini. Mendengar kata-kata Kairus, para tawanan menggertakkan gigi mereka dan menatap jempol masing-masing.
“Oh, kalau kalian takut memotongnya sendiri, aku bisa melakukannya untuk kalian.”
Ada orang yang bisa menusuk perut orang lain, tapi tidak sanggup melukai jempolnya sendiri, bahkan dengan jarum. Untuk mereka, Kairus bersedia membantu memotong jempol mereka.
“Aarrghh…”
Satu per satu, para tawanan mulai memotong jempol mereka. Mereka lebih memilih kehilangan jempol daripada kehilangan kepala.
“Tunggu, kau berhenti.”
Kairus menghentikan seseorang dengan suara dingin.
“A… Aku? Maksudmu aku?”
Kairus mengangguk ke arah orang tersebut.
“Kau kan kidal. Tapi kenapa kau potong jempol tangan kananmu? Apa kau sedang bercanda denganku?”
Mendengar kata-kata Kairus, orang itu terbelalak, mulutnya terbuka tanpa suara.
“Aku aslinya memang pengguna tangan kanan.”
“Omong kosong. Aku melihatmu tadi bertarung dengan tangan kiri sebagai yang utama. Jangan bohong!”
Ucapan Kairus membuat pria itu kehilangan kata-kata. ‘Dia benar-benar mengingat detail itu?’ Pria yang ditegur itu merasa dunianya runtuh seketika.
“Pergi dan potong jempol tangan kirimu.”
Kairus kemudian mengembalikan jempol yang sudah dipotong tadi kepada pria tersebut.
“Ini, kalau kau bisa menyambungnya kembali, silakan coba. Kenapa malah memotong jempol yang salah?”
Akhirnya, pria yang mencoba licik itu harus memotong kedua jempolnya. Jumlah jempol yang harus dipotong bertambah dari satu menjadi dua, tapi itu masih lebih baik daripada kehilangan kepala.
“Kalian yang lain juga sama saja. Aku ingat semuanya, jadi jangan coba-coba curang. Kali ini aku hanya memberi peringatan karena baru pertama kali ketahuan, tapi…”
Kairus kemudian menggerakkan pisau ke lehernya, menirukan gerakan memotong.
“Lain kali, jika ketahuan lagi, aku akan langsung memanen semangka di atas bahu kalian tanpa peringatan.”
Jika kepala mereka hilang, bahkan tak ada waktu untuk menyesal.
Melihat bagaimana Kairus berhasil menemukan orang yang memotong jempol tangan yang salah, ancaman itu jelas bukan hanya gertakan.
Sekitar lima orang yang mencoba curang akhirnya kehilangan jempol kedua tangannya. Bukan karena sisanya lebih bermoral, hanya saja mereka masih ragu-ragu untuk memotong jempol mereka.
“Semoga kita tak pernah bertemu lagi. Mari jalani hidup kalian dengan tenang sampai kita tua dan mati.”
Kairus memberikan salam perpisahan kepada mereka yang telah memotong jempolnya, memberi jalan untuk mereka pergi.
Setelah semuanya pergi, Kairus menghela napas kecil dan pergi ke dapur untuk mengambil pel.
“Kenapa?” Jonathan yang memperhatikan dari tadi tiba-tiba bertanya pada Kairus.
“Ya? Lantainya kotor. Bos, masa kita akan tetap buka dengan keadaan begini? Nanti pelanggan bisa hilang selera makan, dan pendapatan kita turun.”
Mendengar itu, Jonathan menjawab.
“Bukan itu, dasar bodoh. Kau tak perlu repot-repot menghadapi mereka di sini.”
Di kota Bennett, hal seperti ini biasa terjadi. Umumnya, saat nyawa mereka terancam, orang akan lari tanpa memikirkan siapa pun, bahkan bosnya sendiri.
Memang, itulah yang umum terjadi. Kairus mengambil pel dari dapur dan menjawab.
“Saat Bos tidak ada, aku sudah berjanji untuk menjaga toko. Aku selalu berusaha menepati janji.”
Setidaknya, Kairus berusaha. Jika ada janji yang tak bisa ditepati, dia tidak akan memaksakannya. Lebih tepatnya, dia tidak akan bersikeras menepati janji yang sudah mustahil dipenuhi.
Jika ada aturan dalam hidup Kairus, mungkin itulah yang akan keluar dari mulutnya saat ini.
Mendengar jawabannya, Jonathan menatap Kairus sejenak, lalu menyelipkan sebatang rokok ke mulutnya dan berkata, “Begitu ya? Baiklah.”
Kairus dan Jonathan kemudian bekerja keras, berusaha mengembalikan toko ke kondisi normal sebelum waktu buka tiba.
“Lalu, bagaimana dengan pintu yang rusak? Sepertinya tak bisa diperbaiki hari ini,” ujar Kairus.
“Biarkan saja. Di tempat ini, bukan cuma pintu toko kita yang hancur. Orang-orang pasti berpikir, ‘apa di sini habis dirampok ya?’ sambil masuk.”
Entah wajar atau tidak, jawaban Jonathan yang begitu tenang membuat Kairus tak punya pilihan selain menerima penjelasan itu.
Di kota Bennett, pembunuhan berencana terhadap pemilik restoran adalah hal yang biasa. Sebuah pintu toko yang rusak hanya setara dengan memecahkan satu gelas saat melayani pelanggan.
“Bagaimanapun, terima kasih,” kata Jonathan tiba-tiba.
Jika Kairus langsung kabur ketika orang-orang itu menyerbu restoran, Jonathan mungkin sudah mati. Jonathan masih hidup, dan sekarang punya kesempatan untuk mengejar orang yang mengirim pembunuh untuknya, semua karena Kairus tetap bertahan di restoran, mengulur waktu hingga Jonathan kembali. Jonathan sangat menyadari hal itu.
“Anda bisa mengekspresikan rasa terima kasih itu dengan cara yang lebih nyata, seperti menaikkan gaji,” kata Kairus.
Jonathan menjawab, “Aku tidak ada niat menaikkan gajimu.”
Kairus menghela napas penuh penyesalan. “Astaga, ternyata imbalan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi restoran ini hanyalah pujian, yang bahkan tak sebanding dengan segelas bir.”
Mendengar keluhan itu, Jonathan bertanya, “Kau tidak berniat bekerja di restoran ini seumur hidup, kan?”
Kairus berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Bagaimana Anda tahu?”
“Orang kebanyakan, setelah bekerja di restoran, akan pulang dan tidur seharian.”
Namun, selama dua bulan bekerja di restoran, Kairus tak pernah melakukannya. Meskipun stamina Kairus baik, ada perbedaan antara memiliki stamina yang bagus dan kelelahan akibat bekerja. Bahkan orang yang suka berolahraga tetap akan merasa letih setelah bekerja fisik.
Tapi setiap selesai bekerja, Kairus selalu pergi keluar.
“Kau pikir, dengan berkeliaran sendirian, kau bisa mengetahui banyak tentang Kota Bennett?” tanya Jonathan.
Kairus mengangguk dengan wajah setuju. “Ya, memang benar. Dengan berkeliaran sendiri, aku tidak menemukan informasi yang berguna.”
Di kota ini, jika seseorang yang tidak dikenal mendekatimu, kemungkinan besar itu untuk mengemis atau merampok. Jika sial, hanya dengan berbicara dengan orang asing, kau bisa diculik dan dijual sebagai budak di tempat yang jauh di seberang lautan.
Untuk tetap hidup tanpa mati atau cacat, orang-orang di kota ini memiliki rasa curiga yang sangat tinggi terhadap sesama.
“Apakah kau sedang mencari seseorang?” tanya Jonathan.
Kairus menjawab dengan jujur, “Bukan orang, tapi barang.”
Jonathan tidak bertanya lebih lanjut tentang apa yang Kairus cari. Kairus pun menyadari bahwa Jonathan sebenarnya sedang memberinya ruang privasi.
“Jika kau mencari barang selundupan yang beredar di Kota Bennett, tempat paling pasti adalah Pegadaian Areumduri.”
Pegadaian Areumduri.
“Salah satu organisasi yang termasuk dalam Komite Pengelola Kanal,” kata Jonathan.
Dengan kata lain, ini adalah salah satu organisasi kriminal kelas kakap yang bisa disejajarkan dengan Korps Keamanan Kekaisaran atau Kepolisian Republik.
“Aku tahu salah satu tempat mereka. Letaknya di Upside. Aku bisa memberitahumu lokasinya.”
“Kau pikir organisasi besar seperti mereka akan melirik orang sepertiku yang datang untuk mencari barang?” ujar Kairus sambil tersenyum tipis.
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────