Kisah Si Pahlawan Palsu - 0. Prolog – Palsu
Prolog – Palsu
“Dulu, nenek pernah bercerita padaku…” Suara nafas terakhir yang lemah terdengar. Anak ini sedang sekarat.
Aku menyarungkan pedang suci Aradamantel dan berlutut di depannya dengan satu lutut.
“Ketika kegelapan merajalela di dunia… para dewa akan mengirim seorang pahlawan…”
Ini adalah perbuatan Uruk. Punggungnya hancur akibat palu besi. Bahkan jika dia selamat secara ajaib, dia tidak akan bisa berjalan seumur hidupnya.
“Kakak, kakak kan pahlawan itu, ya…?”
Pahlawan… Pahlawan, ya…
Aku menggelengkan kepala dengan getir. Itu adalah nama yang telah dilupakan. Nama yang tak pernah ada di tanah penuh air mata ini, yang bahkan telah ditinggalkan oleh para dewa.
“Tapi… bagaimana bisa Kakak melakukan itu…”
Tatapan anak itu tertuju ke belakangku.
Di sana, terlihat lebih dari seratus monster yang telah kubunuh dan mayat pasukan pendahulu Uruk yang berserakan seperti sampah.
“Aku memang melakukannya, tapi aku itu palsu.”
“Palsu…?”
Pahlawan.
Sosok yang, pada zaman mitos, menyegel kegelapan dan membuka era cahaya. Sayangnya, aku bukanlah sosok sehebat itu yang dipilih oleh para dewa. Lebih dari itu, dunia ini tidaklah sebaik dan sehangat itu untuk melahirkan sosok seperti pahlawan di setiap zaman.
“Di Church of the Light Dragon, orang sepertiku disebut Feikuoria.”
Feikuoria (FakeWarrior), yang berarti pahlawan palsu. Ya, palsu. Pahlawan yang diciptakan secara artifisial. Wujud putus asa umat manusia untuk melawan takdir kejam dan getir.
“Aku tidak punya kekuatan untuk mengabulkan apa yang kamu inginkan.”
Aku tidak bisa menghidupkan orang mati. Aku juga tidak bisa membelah lautan dengan satu tebasan. Semua kisah kepahlawanan itu hanyalah cerita zaman mitos, yaitu kisah pahlawan sejati.
Aku hanyalah pahlawan palsu.
“Jadi… apa itu berarti… mereka bisa terus hidup semaunya… tanpa dihukum…?”
Membunuh, merampas, memperkosa.
Selalu seperti itu, kegelapan dan para pengikutnya. Mereka selalu merampas kehidupan berharga umat manusia setiap hari. Seolah-olah menghina setiap usaha dan jerih payah orang-orang yang telah hidup dengan penuh kesetiaan.
“Mereka membunuh ibu, ayah, nenek, kakak, dan semua orang di desa… tapi… mereka tidak dihukum sama sekali…”
Anak itu mulai menangis perlahan. Meskipun dia sudah sekarat, dari mana tangisan pilu itu bisa muncul?
“Sakit rasanya… di saat terakhir… aku hanya bisa menangis… dan tidak bisa melakukan apa pun…”
Di balik air matanya yang mengalir, bayanganku sendiri yang menangis di masa kecil terlintas.
Sama seperti anak ini.
Di hari ketika bintang-bintang merenggut segalanya dariku dan tertawa mengejek, saat aku hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Aku berharap… aku juga punya sedikit kekuatan seperti Kakak…”
Apa yang diinginkan anak itu? Ingin bertahan hidup, ataukah sekadar mendapatkan hiburan terakhir?
Aku tidak tahu. Karena aku tidak tahu, ada satu hal yang bisa kulakukan.
“Apapun yang kamu harapkan… aku mungkin tidak bisa membuat mukjizat yang tak masuk akal.”
Aku menggenggam tangan kecilnya yang gemetar. Tangan yang menjulur dalam sekarat itu kugenggam.
“Tapi ada satu hal yang bisa kujanjikan.”
“…?”
“Aku akan membalas mereka. Semua yang mereka lakukan padamu dan keluargamu.”
Perlahan, dengan sangat pelan dan lembut. Detak nadi yang lemah dan terputus yang kurasakan melalui genggaman tangannya mulai memudar. Dan akhirnya, lenyap.
“…”
Sambil menurunkan tangan anak itu dengan lembut ke tanah, aku menghela nafas singkat. Saat itu sedang musim panas. Musim di mana abu gunung berapi menutupi dunia dengan warna hitam. Di ambang musim itu, burung gagak hinggap di atas tubuh yang mati, mencabik-cabik daging mereka.
Saat itulah.
“Kisayka o tto shiem?”
“Olbera shi ge meruk.” Suara yang terdengar seperti gergaji menggerus besi.
Ketika aku berbalik, terlihat pasukan utama Uruk. Dengan suara berderak dari baju zirah rantai mereka yang bergema menyeramkan, mereka mulai memasuki desa. Tatapan mereka macam-macam. Amarah terhadap pembunuh rekan-rekan mereka, rasa tertarik terhadap seorang yang kuat…
Namun tidak sedikit pun ada rasa bersalah untuk orang-orang yang telah mereka bunuh dan rampas.
Benar, kalian memang selalu seperti ini.
Dengan bunyi yang nyaring, pedang suci Aradamantel-ku tercabut dari sarungnya, mengeluarkan kilauan merah menyala yang mengaum dengan ganas.
“Kishiro mao karedan da?!” Salah satu dari mereka bertanya dengan nada waspada.
Itu bahasa asing yang berarti, “Siapa kau?”
Aku menjawab. “Aku adalah Kaisen Alter Aradamantel.”
Aradamantel adalah nama pedang suciku. Nama tengah “Alter” adalah kata kuno yang diberikan kepada Feikuoria, yang berarti “pengganti” atau “wakil.” Jika diterjemahkan, namaku berarti “Kaisen, Wakil dari Aradamantel.”
“Aku akan membunuh kalian semua.”
Nama yang sederhana ini. Dan seruan yang putus asa namun rendah hati ini.
Adalah takdir yang kuikrarkan pada diriku sendiri, pada hari ketika matahari dan bulan bersembunyi ketakutan, dan hanya bintang-bintang yang tertawa melihat air mataku.