Editor Adalah Figuran dalam Novel - 2. Masuk ke dalam naskah (2)
Masuk ke dalam naskah (2)
━━━━━━━━━━━━━━༻❁༺━━━━━━━━━━━━━━
“Apa, apa?! Aaaaah!”
Ia terhanyut dalam derasnya arus Sungai Han dan mulai panik berjuang untuk keluar. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam air sejak selesai wamil. Ia tenggelam begitu dalam sehingga, meski berusaha keras, tubuhnya tidak juga mengambang.
Hidupnya memang tak pernah menyenangkan, tapi mati dengan cara seperti ini terlalu sia-sia. Ia merasa hidupnya begitu berat sehingga ingin mati, tapi bukan berarti ia benar-benar ingin mati!
Apa ini yang orang lihat sebelum mati?
Wajah ibunya, adiknya, dan juga wajah Min-san, teman kampus yang dulu ia sukai, melintas dalam pikirannya.
‘Tidak, aku tidak ingin mati. Aku harus bertahan—.’
“[Tolong aku!]”
Saat kata-kata yang tak terdengar itu keluar dari mulutnya, tangan kiri Kim Jeongjin memancarkan cahaya yang terang. Setengah lingkaran emas muncul di sekeliling tubuhnya. Air hitam yang tadinya menyeretnya pergi mendadak terdesak keluar dari dalam lingkaran bercahaya itu.
Tubuh Jeongjin yang kehilangan kesadaran terangkat ke permukaan air, tertarik oleh lingkaran cahaya.
Sesosok tubuh ramping yang berlari menuju cahaya di tepi sungai meraih tubuh Jeongjin yang mengapung di air dan menariknya ke darat.
Cahaya emas yang tak dikenal seakan tersedot masuk ke dalam cincin kelulusan yang melingkari jari kiri Jeongjin, lalu menghilang.
“Sadarlah, Clayeo Aser!”
Jeongjin membuka matanya.
Seorang gadis dengan rambut merah dan mata hijau tua, yang memiliki kecantikan luar biasa, mengguncang kerah bajunya.
“Hap, ugh.”
Setelah beberapa lama, ia akhirnya memuntahkan air. Semua bagian dari wajahnya—hidung, mata, telinga, dan mulut—terasa sakit dan penuh.
“Clayeo―!”
“…Ini, bisa… lepaskan aku dulu.”
Suara Jeongjin terdengar aneh karena terlalu banyak menelan air. Ia berkedip berulang kali, berusaha untuk fokus.
Yang sedang menatapnya adalah seorang gadis asing yang ramping dan tinggi. Gadis berwajah cantik dengan mata besar dan menawan ini adalah seseorang yang sama sekali tak dikenalnya.
“Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini tengah malam?!”
“Apa maksudmu dengan Clayeo dan kenapa kau tiba-tiba menarikku…?”
Jeongjin tidak bisa memahami mengapa dirinya, yang tenggelam di Jembatan Dongjak, kini sedang diguncang-guncang oleh seorang gadis asing.
“Kau adalah Clayeo Aser, siswa tahun pertama! Jangan coba-coba menyangkalnya. Aku jelas melihat lingkaran sihir yang kau ciptakan tadi bersinar!”
Tubuhnya bergetar seperti daun yang di terbangkan angin, namun gadis itu sama sekali tak peduli.
Gadis itu berbicara dengan bahasa yang bukan bahasa Korea. Namun anehnya, Jeongjin bisa memahami maksudnya.
Hanya karena ia bisa memahami maksudnya, bukan berarti ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa yang kau bicarakan… Siapa kau, dan kenapa kau melakukan ini padaku? Lepaskan.”
Kepalanya terasa sakit karena terus diguncang oleh gadis itu. Meski Jeongjin berusaha menggerakkan lengannya untuk menolak, usahanya sia-sia.
Berapa lama ia tenggelam di air hingga tak bisa melepaskan diri dari gadis ramping ini?
Jeongjin akhirnya ambruk tanpa daya. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari gadis itu berlanjut sebentar sebelum semuanya menjadi sunyi.
Ia merasa tubuhnya terangkat, dikelilingi oleh kehangatan dan wangi yang menyenangkan, tapi ia tidak mengingatnya dengan jelas.
Ketika ia membuka mata, langit sudah berwarna keabu-abuan, tanda fajar menjelang.
Rasanya seperti ia telah tidur selama puluhan jam, tapi juga seperti baru saja bangun dari tidur siang singkat.
Angin sejuk masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Sekarang bulan Juli, seharusnya udara terasa lengket dan panas.
‘Di mana ini sebenarnya?’
Dengan tubuh yang terasa lemah dan berat seperti melewati sakit yang panjang, ia bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
Sambil duduk dan mencoba menenangkan napasnya, Jeongjin tanpa sengaja mengusap mata yang terasa kering dengan punggung tangannya, lalu tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang aneh.
Ia memeriksa kedua tangannya dengan lebih seksama.
Tangan yang dulunya besar dan kasar karena bekerja di berbagai pekerjaan paruh waktu selama masa sekolah, dan ujung-ujung jarinya yang dulu kasar karena sering mengamplas buku bekas untuk diperbaiki, kini tampak halus dan ramping.
Bahkan bekas luka besar di tangannya, yang ia dapatkan setelah menggunakan gerinda saat bekerja di kapal dan harus dijahit dengan dua belas jahitan, kini sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, di punggung tangan kanannya, muncul garis-garis samar membentuk persegi panjang. Garis itu terlihat pudar hingga ia harus mendekatkan tangannya ke wajah untuk bisa melihatnya dengan jelas.
‘Apa-apaan ini. Ini bukan tanganku.’
Jeongjin dengan cepat memeriksa sekeliling ruangan. Ia melihat cermin hias yang berdiri di sebelah pintu.
Yang terpantul di permukaan cermin adalah seorang remaja kurus kering yang tampak kekurangan gizi. Matanya panjang dan terlihat lemah.
Ketika ia menggelengkan kepala, rambut cokelat kusam remaja dalam cermin itu juga ikut bergoyang.
‘Ini aku? Apa ini mimpi buruk?’
Apa ia mabuk dan tergeletak di suatu tempat?
Jatuh? Stroke? Koma?
Mungkin ini semua hanyalah ilusi yang dilihatnya saat ia terbaring di ranjang rumah sakit.
‘Apa gunanya menjadi orang lain dalam mimpi ini. Tapi cincin kelulusanku masih ada.’
Meskipun tubuhnya telah berubah menjadi seorang remaja asing, cincin kelulusan universitasnya masih melingkar di jari Jeongjin. Mungkin satu-satunya benda yang ia sayangi sehingga terbawa hingga ke dalam mimpinya.
Selain cincin kelulusannya, Jeongjin tidak memiliki barang lain yang ia pedulikan jika hilang.
Ketika ia hampir lulus, jurusannya dihapuskan karena penggabungan fakultas, dan Min-san serta beberapa mahasiswa lainnya menyarankan untuk membuat cincin kelulusan sebagai kenang-kenangan.
Dipaksa oleh bujukan Min-san, ia akhirnya membuat cincin itu. Ia masih membawa cincin itu sampai sekarang karena ia senang mengenakan cincin yang sama dengan gadis yang dulu ia sukai, Min-san, meskipun itu terasa kekanak-kanakan.
‘Aku sudah berusia tiga puluh dua, bukan dua puluh dua. Tapi aku masih belum bisa melupakannya. Apa yang sedang kulakukan? Bahkan dalam mimpi ini.’
Ketika Jeongjin sedang diliputi rasa benci terhadap dirinya sendiri dan mencengkeram kepalanya, sesuatu terjadi.
Deng― Deng― Deng―
Suara lonceng yang asing terdengar. Suaranya jernih dan bergema jauh. Di luar jendela yang kini sudah terang, terlihat hutan lebat dan bangunan tua yang penuh sejarah.
Jeongjin membuka mulutnya lebar-lebar.
Ini bukan Seoul. Tapi, jika ini bukan Seoul, di mana ini?
Mimpi hanyalah pengaturan ulang memori dan pengalaman. Ketika kesadaran kembali, seharusnya semuanya lenyap.
Namun, kesadaran Jeongjin sama sekali tak terasa kabur.
Semua indranya terasa nyata. Sakit kepala, rasa sakit setelah terlalu lama berbaring, bahkan rasa haus sekalipun.
Dia tak bisa lagi mengabaikan ini sebagai sekadar mimpi.
Ia belum pernah bermimpi yang seperti ini, seperti dalam film. Selalu merasa lelah, ia langsung tertidur begitu kepala menyentuh bantal, dan terbangun oleh suara alarm.
Pemandangan luar negeri yang belum pernah ia kunjungi ini berada di luar jangkauan imajinasinya.
Sementara ia tenggelam dalam pikirannya, jari-jarinya yang lemah kadang-kadang bergetar.
Cincin platinum yang dulu pas di jarinya, kini longgar dan hampir terjatuh dari jari telunjuknya. Tanpa sadar, Jeongjin menggenggam cincin kelulusannya yang hampir jatuh itu.
“Ugh.”
Begitu ia menyentuh cincin itu, panas yang luar biasa muncul dari logam tipis tersebut. Meskipun berusaha untuk melepaskannya, cincin itu terasa seperti meleleh dan menyatu dengan kulitnya.
Tiba-tiba, barisan kalimat bercahaya muncul di hadapan Jeongjin. Meski ia menutup matanya, kalimat itu tetap terlihat, seolah tertanam di retina.
[Item Terikat: Janji □□□]
―Tingkat intervensi naratif terlalu rendah, fungsi item terbatas.
―Cincin janji menghubungkan dimensi dengan dimensi. Memasuki dunia terakhir akan membuka fungsi dasar ‘Janji’. Pengguna akan dianugerahi kemampuan resonansi eter tak terbatas.
―Fungsi tingkat pertama ‘Janji’, 「Ingatan」, telah dibuka. Semua teks yang pernah dibaca selama hidup akan diingat secara sempurna berkat fungsi「Ingatan」.
Tulisan bercahaya itu mengingatkan Jeongjin pada teknologi augmented reality (AR).
“Pesan, atau apalah itu!”
Ia jelas pernah melihat ini. Sesaat setelah memeriksa surel pengarang di Jembatan Dongjak dan melihat air yang bergolak, muncul pesan bertuliskan, [―Pesan telah diterima.]
“Aku pikir aku salah lihat. Tapi apa ini sebenarnya?”
Dengan wajah penuh keraguan, Jeongjin memindai kalimat yang mengambang di depan matanya.
‘Masuk ke dunia dan membuka fungsi item… Lalu bisa mengingat semua teks yang pernah dibaca? Apakah ini berarti aku bisa menghidupkan kembali semua buku yang pernah kubaca?’
Ia tak bisa menahan untuk tertawa kecil karena ini terdengar terlalu absurd.
‘Ini seperti khayalan yang kupikirkan saat ujian di SMA dulu. Saat aku tidak bisa matematika, aku mencoba menghafal seluruh buku.’
Meski ini mimpinya, atau khayalannya, mungkinkah hal seperti itu bisa terjadi? Bahkan mengingat apa yang ia makan kemarin saja sudah tidak bisa, apalagi mengingat seluruh teks dari buku.
Tidak mungkin imajinasi seseorang bisa melampaui kecerdasan mereka sendiri. Daya ingat seseorang yang sudah lelah bekerja di usia tiga puluh seperti dirinya tidak cukup kuat untuk mengatasi konsep seperti ini.
‘Terlalu berlebihan.’
Tidak peduli apakah Jeongjin menerima hal itu atau tidak, tulisan lainnya kembali muncul di udara.
[―Fungsi ‘Ingatan’ dari ‘Janji’ memungkinkan Anda untuk membaca ulang <Pangeran Kerajaan Albion>.]
‘Ah…’
Pada titik ini, Jeongjin mulai menyadari sesuatu.
‘Jadi, apa aku benar-benar masuk kedalam naskah novel?’
Ini adalah tema yang sering muncul di web novel yang biasa ia baca di perjalanan kerja. Kisah tentang para tokoh utama yang masuk ke dalam buku yang mereka baca, buku yang mereka sukai, atau buku yang mereka temukan secara kebetulan.
‘Terlalu klise masuk ke dalam buku. Lagi pula, itu buku yang sudah diterbitkan. Sedangkan novel ini adalah naskah yang belum selesai karena pengarangnya terus memperbaikinya.’
Ditambah lagi, jika jiwanya merasuk ke dalam karakter naskah, cincin kelulusannya yang masih ada di tangannya adalah sesuatu yang aneh.
Dengan bingung, Jeongjin menggosok tepi cincin yang kini pas di jarinya, seperti kebiasaannya.
‘Pangeran Kerajaan Albion… Jadi, apa aku akan tau siapa diriku?’
Saat Jeongjin mencoba mengingat kembali isi naskah yang samar-samar, tubuhnya tiba-tiba terkulai karena sensasi aneh.
‘Apakah ini efek dari fungsi 「Ingatan」?!’
Bagian dalam dahinya terasa panas. Gulungan kertas muncul dengan jelas dalam pikirannya.
Saat gulungan itu berputar cepat, teks yang pernah ia baca kembali terasa hidup, seolah-olah sedang membacanya lagi.
Jeongjin kembali berbaring.
Menggunakan fungsi ‘Janji’, ia menyelesaikan pembacaan ulang Pangeran Kerajaan Albion dalam sekejap.
‘Nama Clayeo Aser tidak muncul di naskah.’
Gadis berambut merah di tepi sungai jelas memanggil Jeongjin sebagai ‘Clayeo Aser.’
‘Dia juga menyebutku siswa tahun pertama. Jika dia tahu hal itu, pasti dia juga seorang siswa di sekolah yang sama.’
Hanya ada satu bagian yang cocok.
Ada sebuah dialog singkat dari Isiel Kishion tentang seorang teman sekelas yang tewas akibat terjatuh di sungai.
Kejadian itu terkait dengan insiden di mana sebuah formula sihir misterius ditemukan di dalam sekolah. Isiel, yang sering melakukan patroli malam untuk mencegah bahaya terhadap Aser, menyelamatkan seorang siswa yang tenggelam di sungai.
‘Benar! Gadis itu adalah Isiel Kishion. Sekarang aku ingat, saat dia menginterogasiku, dia juga bicara tentang sihir. Pantas saja… Gadis cantik itu juga sangat kuat, dengan rambut merah menyala.’
Isiel Kishion adalah karakter terpenting kedua setelah protagonis Arthur Riognan dalam Pangeran Kerajaan Albion.
Dia adalah kesatria pertama Arthur, pendekar pedang yang dilatih oleh guru yang sama, dan pengikut setianya.
Selama masa sekolah, semua orang mengira bahwa Isiel, siswa terbaik, diberi tanggung jawab untuk mengurus siswa bermasalah hanya karena dia adalah teman latihan pedang dari Pangeran Arthur yang ketiga.
Jika saat ini Isiel dan Arthur masih siswa, berarti perang masih sekitar lima tahun lagi.
Insiden formula sihir itu muncul di halaman kedua naskah, dan Clayeo Aser hanyalah karakter figuran tanpa nama yang lenyap di bagian itu.
Tidak mengherankan jika tidak ada jawaban meski sudah membaca naskahnya. Pengarangnya belum menulisnya. Jeongjin hanyalah seorang karakter yang sama sekali tidak penting di cerita Pangeran Kerajaan Albion di mana Arthur adalah protagonisnya.
Jeongjin tidak tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Clayeo Aser atau bagaimana dia akhirnya tewas.
‘Tapi itu urusan nanti.’
Berpikir terlalu keras hanya membuatnya lelah lagi.
‘Seperti yang lainnya, aku bisa berpura-pura kehilangan ingatan. Toh aku juga terjatuh ke sungai, alasan yang sempurna.’
Sekolah Kerajaan Penjaga Ibu Kota, yang terletak di ibu kota Kerajaan Albion, Lundane, digambarkan dalam naskah sebagai sekolah elit terbaik di negara itu.
Baik karena kemampuan, keluarga, atau kekayaan, hanya anak-anak yang memiliki sesuatu yang istimewa yang bisa bersekolah di sana.
‘Kalau begitu, anak yang bernama Clayeo ini pasti memiliki sesuatu yang istimewa juga.’
Apa pun itu, tidak mungkin hidup Clayeo lebih buruk daripada kehidupan asli Jeongjin.
‘Baiklah. Apakah ini mimpi yang aku buat, atau hasil imajinasi penulis, pada dasarnya tidak ada bedanya.’
Sejak dewasa, ia tidak pernah bisa beristirahat selama tiga hari penuh. Saat liburan atau hari libur, ia selalu mengambil pekerjaan sampingan untuk mendapatkan sedikit uang.
Dia bahkan belum pernah bepergian ke luar negeri, apalagi memiliki paspor.
Mungkin, bisa saja di dalam kenyataannya saat ini dia terbaring di ruang perawatan intensif dengan ventilator, dan memakai pakaian rumah sakit yang diganti setiap harinya oleh perawat.
‘Apa pun itu. Aku akan tetap berbaring di sini. Rasanya aku bisa tidur selama 10 tahun lagi.’
Jeongjin kembali membenamkan dirinya dalam selimut empuk. Selimut itu begitu nyaman seperti diselimuti awan.
Hanya ‘Janji’ yang bercahaya di tangan kirinya, memancarkan sinarnya. Jeongjin, yang sudah tertidur lelap, tidak menyadari huruf-huruf emas yang melayang di atas ‘Janji’.
[―Penulisan Pangeran Kerajaan Albion (Draf Akhir) dimulai.]
[―Pengarang mendapatkan petunjuk untuk akhir yang baru.]
[―Karakter yang ada akan digunakan kembali.]
━━━━━━━━━━━━━━༻❁༺━━━━━━━━━━━━━━