Editor Adalah Figuran dalam Novel - 1. Masuk ke dalam Naskah
━━━━━━━━━━━━━━༻❁༺━━━━━━━━━━━━━━
Kim Jeongjin menerima email pertama dari seorang penulis bernama ‘Musai’ pada hari Jumat minggu lalu.
Saat itu, tempat berkerjanya sedang menuju penutupan, namun pekerjaan justru semakin menumpuk, memaksanya bekerja lembur setiap hari.
Ia kelelahan karena harus menyelesaikan banyak hal sekaligus, mulai dari mengurus lisensi terjemahan buku hingga menyelesaikan pembayaran freelancer desainer. Di tengah situasi tersebut, email itu datang.
“[Pesan baru telah tiba. (1)]”
“[Subjek: Naskah kiriman terlampir.]”
Lampiran: <Pangeran Kerajaan Albion>.hwp
Mencetak langsung naskah yang diterima adalah sebuah kewajiban mereka. Namun, selama ini, bosnya bahkan enggan memberi izin untuk mencetak naskah.
‘Rasanya ingin sekali merusak printer dan membuat kekacauan di kantor, tapi mana mungkin aku bisa melakukan itu.’
Setelah memasukkan hasil cetakan naskah yang dia cetak diam-diam itu ke dalam tas, ia langsung pulang.
Akhir pekan itu penuh kesibukan.
Ia memeriksa persyaratan untuk mendaftar tunjangan pengangguran dan menjelajahi situs pencari kerja. Dengan setengah hati, ia membuka file surat lamarannya.
Sarjana lulusan sejarah yang merasa menyesal karena lulus dari jurusan ilmu humaniora.
Pendidikan dan pengalaman kerja yang biasa saja di usia tiga puluh dua tahun.
Dengan satu kaleng bir yang sudah terbuka dan surat lamaran di depannya, pikirannya mulai melayang. Setelah menghabiskan birnya, Jeongjin mengambil naskah cetak dari dalam tasnya.
<Pangeran Kerajaan Albion> (Ditulis oleh Musai).
‘Apa ini? Fantasi? Nama penulisnya terdengar seperti nama samaran.’
Perusahaan tempatnya bekerja sudah tua dan kecil, apalagi mereka tidak pernah menerbitkan novel. Bagaimana penulis ini bisa mengetahui perusahaan mereka dan mengirimkan naskahnya? Mungkin dia salah alamat.
Karena terbiasa menerima naskah fantasi dari penggemar fanatik, Jeongjin merasa santai saat mulai meninjau naskah itu.
Ternyata, naskah itu cukup menarik hingga tak terasa ia menghabiskan sepanjang hari dan membacanya sampai selesai.
Namun, naskah itu belum selesai.
‘Ini akhir bagian pertama? Setelah menulis sebanyak 6.000 halaman?’
Di akhir naskah, ada catatan tambahan dari penulis. Ternyata, ia menulis naskah ini dengan tangan terlebih dahulu sebelum menyalinnya ke file Hangul. Ia juga menyebutkan jika naskah ini telah direvisi delapan kali.
‘Delapan kali?! Orang ini benar-benar rajin.’
Biasanya, untuk naskah yang berasal dari genre lain atau dari penulis yang tidak memenuhi standar, Jeongjin tidak akan repot-repot mengirimkan email penolakan. Namun, tulisan penulis ini menunjukkan betapa besar upaya yang telah ia curahkan, sehingga sulit untuk diabaikan.
Setelah selesai membaca naskah, Jeongjin mengirim balasan pada penulis. Tak lama kemudian, ia menerima jawaban dan beberapa kali bertukar email untuk memberikan saran.
Tentu saja, karena Jeongjin bukanlah editor yang menangani naskah novel, ia dengan sopan menyarankan agar penulis mengirimkan naskahnya ke penerbit lain seperti Hwanggeumji atau Jagwa Mo.
‘Aku pikir urusannya sudah selesai.’
Namun, siapa sangka rasa simpatinya yang tak berguna itu akan menghasilkan balasan seperti ini di tengah malam. Pada pukul tiga pagi.
‘Apa penulis ini tidak mengerti kalau ia sudah ditolak?’
[‘Semoga kita bisa bertemu suatu saat nanti. Semoga sukses dalam menulis.’]
Email yang kukirim itu, sekilas, mungkin tidak terlihat seperti penolakan… mungkin juga penulis ini menganggapnya sebagai tawaran bantuan.
‘Siapa yang peduli.’
Jeongjin menutup aplikasi emailnya dan menyimpan ponselnya. Saat itu, sesuatu seperti tulisan melintas di depan matanya.
[―Pesan telah diterima.]
“Kenapa aku melihat hal-hal yang tak masuk akal.”
Jeongjin menggelengkan kepalanya. Angin kencang bertiup dari arah sungai, membuatnya sedikit lebih sadar. Saat itu ia berencana untuk melanjutkan berjalan menyeberangi jembatan.
Lampu jalan di Jembatan Dongjak padam serentak. Apartemen di seberang sungai yang tadinya sebagian masih terang, kini tenggelam dalam kegelapan total.
“Apa?”
Ia merasa tubuhnya miring ke luar pagar, meskipun ia tidak bergerak. Air sungai yang bergejolak dengan gelap tampak seolah-olah menariknya dengan daya yang mengerikan.
Ia benci air. Hal-hal buruk selalu terjadi di dekat air. Menyebrangi Sungai Han dengan berjalan kaki? Ia pasti sedang mabuk dan berkhayal. Dalam keadaan normal, ia tidak akan melakukan hal semacam ini.
‘Orang lain bisa saja mengira aku ingin bunuh diri.’
Ia tidak ingin ada berita tentang seseorang yang bunuh diri karena kehilangan pekerjaan.
Jeongjin mencoba mundur dari pagar dengan cepat, tapi ia tidak bisa melepaskan diri dari daya tarik air yang seakan mengikatnya.
Dalam sekejap, tubuhnya terseret ke dalam sungai.
━━━━━━━━━━━━━━༻❁༺━━━━━━━━━━━━━━