Editor Adalah Figuran dalam Novel - 0. Prolog
Lima tahun bekerja, berakhir sia-sia.
Penerbit buku sejarah tempatnya bekerja, yang hanya memiliki empat karyawan, terpaksa pulang dengan tangan kosong setelah penjual grosir langganan mereka bangkrut.
Buku-buku sudah tidak laku, dan perusahaan bertahan dengan susah payah. Akhirnya, si pemilik memutuskan untuk menutup perusahaan penerbitan.
Hari ini adalah perjamuan terakhir.
“Editor Kim Jeongjin, kau sudah bekerja keras sampai sekarang.”
“Tidak, Pak.”
“Kaulah yang selalu menangani semua pekerjaan berat.”
Karena aku tak punya tempat lain setelah ini.
Aku tak bisa membiarkan gajiku terputus, bahkan hanya sebulan.
Pekerjaan sebagai editor mungkin terdengar berkelas, tapi kenyataannya lebih mirip asisten penulis. Jauh dari gambaran media tentang profesi ini. Tak ada wewenang besar untuk mengubah tema atau arah tulisan.
Kadang-kadang, aku harus mengirim email ke penulis, meminta mereka untuk menghapus satu catatan kaki atau mengurangi tiga istilah asing, sambil menelepon mereka berkali-kali.
Karena itu, meskipun hatiku penuh kekesalan, aku mencoba untuk tetap tersenyum. Bahkan saat ini, aku ingin sekali memukul pria tua di hadapanku, tapi kutahan karena takut tak mendapat pesangon.
“Sebaliknya, saya banyak belajar dari Anda, Pak.”
“Para penulis juga sering memujimu, katanya kau sangat teliti.”
“Saya tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi, terima kasih atas pujiannya.”
“Lihat, kau bahkan merendah seperti itu.”
Bos yang biasanya mengkritik pekerjaanku dengan pedas, kini berbicara tiga hal berbeda dalam satu kalimat. Dia menjadi ramah hanya saat minum saja.
‘Ah, sudahlah. Ini semua akan segera berakhir.’
Di siaran TV bar itu, berita tentang persenjataan nuklir terus berulang. Dalam momen seperti ini, aku berpikir, bagaimana kalau dunia ini hancur?
Setelah beberapa botol soju, perjamuan itu pun berakhir.
Malam semakin larut, tapi hatiku masih terasa sesak.
Jeongjin mulai berjalan tanpa tujuan dari kantornya di Gangbuk menuju rumah. Menuju atap di puncak bukit Sadang-dong, tempat dia tinggal selama beberapa tahun terakhir.
Sewa tempat itu sangat murah karena pemiliknya menunggu renovasi, tapi rumahnya juga sudah sangat tua dan tidak nyaman.
Bahkan, aku baru saja diberi tahu harus segera keluar. Renovasi yang sempat terhenti lama sepertinya akan dimulai.
‘Setelah keluar dari sana, aku harus ke mana?’
Aku pindah ke Seoul sendirian saat sudah besar.
Sampai sekolah menengah, aku tumbuh berpindah-pindah di desa-desa nelayan. Aku memilih jurusan yang tidak populer dalam bidang sastra supaya bisa pergi dari desa.
Sepertinya aku menghabiskan seluruh keberuntunganku saat diterima di universitas. Setelah itu, hidupku hanya diisi dengan bekerja dan kuliah, terus berulang seperti itu.
Lima tahun lalu, saat topan melanda, ibuku terluka di peternakan ikan, dan aku harus menanggung biaya rumah sakitnya.
Ibuku terbaring sakit selama beberapa tahun sebelum akhirnya meninggal, semua biaya pengobatannya sangat membebaniku—aku baru memulai karier dan masih punya hutang pinjaman pendidikan.
Ayahku meninggal di kapal asing saat aku berusia tiga tahun. Adikku meninggal waktu kecil, tenggelam di waduk.
Seumur hidup, rasanya tak ada hal baik yang pernah menghampiriku.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, sampai tak terasa aku sudah berjalan semakin jauh, sampai tak ada lagi orang di sekitarku.
Ketika aku sampai di trotoar Jembatan Dongjak, waktu sudah hampir pagi.
Di seberang sana, di selatan sungai, aku melihat deretan apartemen yang padat, sementara aku tak punya satu pun tempat tinggal.
Aku tak tahu berapa lama aku berdiri melamun di sana.
Drrrr― drrrr―
Ponselku bergetar keras, membuatku tersadar dari lamunanku.
Itu adalah notifikasi dari akun email kantor.
‘Sudah lewat jam dua pagi, siapa yang mengirim email?’
[RE: RE: RE: RE: Pengiriman Naskah]
[Halo, Editor Kim Jeongjin.
Ini Musai.
Terima kasih atas jawaban positif Anda sebelumnya. Saya sangat menghargai kesediaan Anda untuk terus membantu dalam revisi naskah.
Naskah yang sedang saya tulis adalah revisi akhir dari Pangeran Kerajaan Albion. Menyelesaikan cerita ini dalam bentuk sempurna adalah tujuan hidup saya.
Saya yakin dengan bantuan Anda, kami bisa melanjutkan bagian kedua dengan benar kali ini.
Terima kasih.]
Email balasan dari penulis naskah itu datang tanpa diduga. Saat membacanya, rasa mabukku langsung hilang.
“Tunggu, kapan aku pernah bilang akan membantunya?”
━━━━━━━━━━━━━━༻❁༺━━━━━━━━━━━━━━