Aku Menjadi Pahlawan yang Membuang Tokoh Utama - 0. Prolog - Hidup Adalah Soal Timing
0. Hidup adalah Soal Timing
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────
Kau tahu kan, ada ungkapan yang sering kita dengar? Hidup itu soal timing. Entah itu saat membeli atau menjual saham, saat tarik ulur dalam hubungan asmara, atau ketika bola meleset di inning kesembilan dengan dua out dan base penuh. Bahkan saat tim bertarung dalam game 5 lawan 5, momen itulah yang menentukan hidup. Tidak peduli seberapa baik situasinya, jika terjadi di waktu yang salah, kau akan merasa frustrasi dan mengumpat dalam hati.
Jadi, kenapa aku bicara panjang lebar soal ini?
Karena situasi yang aku hadapi sekarang persis seperti itu.
“Kamu sudah gila?!”
Pada suatu hari di musim semi yang tenang, di bawah sinar matahari sore yang damai, aku terbangun karena teriakan seseorang.
Aku berkedip, bingung. Hah? Apa aku ketiduran di meja? Tapi meja ini terlalu mewah tak seperti mejaku. Finishing-nya sangat bagus, permukaannya mengilap seolah baru saja dipoles sampai bening.
“Apa kau tak berniat menjelaskan semua ini?”
Aku mengusap permukaan meja itu, takjub. Begitu licin, lalat yang hinggap mungkin akan terpeleset dan akan melakukan triple axel (tekhnik di ice skating).
Bang!
“Kamu!!”
Seseorang memukul meja dengan keras. Aku segera mengangkat kepala dan melihat orang yang berbicara. Seorang wanita. Mungkin usianya awal hingga pertengahan 20-an? Aku berpikir, apa aku pernah melihat wanita secantik ini? Rambut pirangnya panjang sampai pinggang, matanya biru jernih seperti safir. Tatapan penuh amarah itu membuatnya terlihat semakin menakutkan.
“Baiklah, kalau kau hanya akan berdiri di situ tanpa penjelasan, aku akan meninggalkan pesta sialan ini. Lebih baik aku menemui Aryen daripada di sini bersamamu.”
Pesta sialan? Aryen?
Tanpa sadar, mulutku terbuka.
“Siapa yang memberimu izin untuk pergi?”
Apa-apaan ini, suara sok keren?
Walaupun suara itu berasal dari mulutku, aku merasa ngeri dengan betapa narsistik dan dibuat-buatnya nada rendah itu. Meskipun aku tak bermaksud mengucapkannya, wanita itu mendengar dan mendengus kesal.
“Hah! Izin? Tentu saja izin dariku. Kau tak bisa menghentikanku, dan kau tau itu.”
“Tunggu—”
Saat aku akhirnya bisa mengendalikan mulutku, aku mencoba bicara. Tapi wanita itu hanya menggeleng, seolah tak mau mendengar lebih lama lagi. Rambut pirangnya yang indah berayun lembut saat dia memalingkan wajah.
“Cukup. Aku tak mau dengar lagi. Kecuali kau mau memulai konflik dengan Kerajaan Suci, jangan coba-coba menahanku atau mengikutiku.”
Swish.
Dia berbalik dan melangkah pergi. Pintu ruangan, yang tampak seperti kantor, terbuka dan tertutup. Tanpa sekalipun menoleh, wanita pirang itu menghilang, dan suara langkah kakinya memudar di lorong.
“…Ini benar-benar kacau.”
Suara pria yang terdengar getir menarik perhatianku. Aku menoleh ke arah sumber suara, seorang pria besar berdiri di sudut ruangan, menatapku.
“Aryen sudah diusir, dan sekarang bahkan Isis juga pergi. Dua orang sekaligus.”
Aryen, Isis. Sang Protagonis, Sang Perawan Suci. Dan pria besar yang tampak familiar ini…
Otakku mulai bekerja. Eh, eh? Apakah ini kejadian ‘berpindah ke tubuh orang lain’ seperti yang sering kudengar? Tunggu. Siapa yang aku usir? Dan kenapa orang ini bertindak seolah-olah aku yang bertanggung jawab?
Lelaki besar itu memberikan pukulan terakhir pada otakku yang masih bingung.
“Jadi, apa rencanamu sekarang, Tuan Pahlawan?”
Ah, sial. Aku benar-benar dalam masalah besar.
───────────── ⋆⋅☼⋅⋆ ─────────────